Tampilkan postingan dengan label Spesial Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Spesial Cinta. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Agustus 2013

Speranza


Tuhan Yang Maha Menguasai ...

Kami lemah, kami tak sanggup menentukan apa yang akan terjadi dan menimpa kami.
Kami hanya bisa sekedar berusaha melakukan hal yang kami anggap baik untuk kami.
Tuhan, maka bimbinglah kami, berilah petunjuk bagi kesadaran kami.
Tunjukkan jalan yang benar dan terbaik bagi hidup kami, terangi nurani kami, bentangkan jalan rahmat untuk hari-hari yang akan kami lalui.
Berikan kami kekuatan untuk menjadi hamba-Mu yang selalu bersyukur dalam menghadapi segala takdir dan ketentuan-Mu nanti.
Jika tak berlebihan, tumbuhkanlah sayap-sayap tawakal kami, lalu beri kami kemampuan untuk terbang melampaui segala hal yang menyulitkan kami.

Tuhan Pemilik Segala Rahasia ...

Kami tak sanggup membaca rahasia-Mu.
Tak mampu menjangkau masa lalu yang begitu jauh bagi kami.
Tak mampu menebak apa yang akan terjadi satu atau dua detik lagi.
Tak mampu memperbaiki kesalahan-kesalahan di tempat dan waktu yang telah kami lalui.
Maka jika Engkau berkenan Tuhan, ijinkanlah kami menjadi pribadi murah hati yang tak terbebani dengan segala cerita yang sudah, sedang, dan yang akan menimpa dikemudian hari.
Berikan kelapangan, luputkanlah segala sakit dan kebencian dari dada kami, juga berikan kami tempat maaf untuk orang-orang yang telah kami lukai.
Gantikan yang telah hilang, tumbuhkan yang telah patah.

Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang …

Hari ini kami memilih bersatu, memilih jalan takdir-Mu yang barangkali telah kau tulis sebelum kami saling tahu.
Anugerahkan kepada kami pasangan hidup serta keturunan yang mampu menjadi penyejuk bagi kami, pembuka pintu rahmat, sumber ilmu dan hikmah, imam bagi orang-orang yang bertaqwa, serta penyempurna ibadah kami sebagai umat Muhammad.
Karena tak ada yang lebih kami inginkan selain cinta yang datang dari-Mu.
Cinta yang kasihnya mendamaikan, cinta yang indahnya membahagiakan.

Tuhan Yang Baik ...

Kami telah melewati semuanya bersama, tertawa bersama, menangis bersama.
Kami telah saling suka, di antara kami telah saling tumbuh rasa percaya, juga ada semacam ikatan untuk saling menjaga.
Ya, selama ini kami memanglah terus berusaha mengumpulkan bekal yang diperlukan untuk perjalanan bersama.
Jika memang Kau ridha Tuhan, sucikan hati kami, sempurnakan niat kami, mantapkan langkah kami, bimbinglah selalu dan lindungilah kami.
Selebihnya berilah kami satu kekuatan saja.
Berilah kami kekuatan untuk saling mencintai sampai mati, itu saja ...


*-----------------------
- Palangkaraya, 09 Agustus 2013

Senin, 29 April 2013

Selamat Ulang Tahun Sayang


Elly Rahma El-Ghozali adalah alasan bagi lahirnya sebagian tulisan-tulisan saya. Sebagai seorang blogger sekaligus pengagum setia kata-kata, saya merasa sangat berhutang kepadanya. Berbagai inspirasi, motivasi, cinta, kegalauan, serta banyak hal lainnya yang tertumpah pada tulisan-tulisan saya sebagian lahir karena perasaan saya terhadapnya.

Sejujurnya dia tidak hanya memberikan kegembiraan bagi saya, terkadang juga kekesalan, kadang bahkan air mata. Tetapi barangkali justru karena itu kebersamaan kami lebih berwarna. Bukan hanya hitam atau putih saja, bukan hanya pink atau orange saja, melainkan hari-hari yang jauh lebih berwarna.

Hal-hal indah yang kami lalui atau air mata sekalipun seolah tak henti menjadi genderang perang imajinasi saya untuk sekedar curhat kemudian menuliskannya ke dalam blog. Mungkin ini terlalu lebay, tapi mau bagaimana lagi, segala sesuatu yang sudah dia berikan kepada saya memanglah selalu lebih. Sehingga sebagai seorang teman, ‘lawan’, sekaligus ‘kekasih’ (jika dianggap), saya merasa sangat layak berbahagia memberikan penghargaan dan rasa terima kasih terhadapnya.

4uEll, Alasan, Allien, Fucklentine’s, Hujan, Menangislah, Lelap, Suka, Menangislah Jangan Ragu, Kita, Jejak, Bebas, Selisih, Rahasia, adalah sebagian kecil tulisan-tulisan saya yang terinspirasi dari kedekatan kita berdua.

Kemarin dia berulang tahun, dan tidak ketinggalan saya ingin mendedikasikan postingan kali ini khusus sebagai bagian dari perayaan kecil ulang tahunnya sekaligus permintaan maaf kepadanya. Maaf, jika sampai saat ini aku mungkin masih sangat mirip sesosok lelaki gombal kekurangan modal yang hanya memberimu kado berupa ucapan selamat atau sekedar tulisan. Tapi aku janji, ya aku janji akan membawamu kedunia yang lebih terang, lebih indah, lebih luas, dan jauh lebih baik dari sekarang, secepatnya.

Selamat ulang tahun sayang, terima kasih telah menjadi dirimu apa adanya, dan teruslah menjadi dirimu yang luar biasa. Terima kasih telah bersedia ada dihari-hari kita yang serba luar biasa.

Terakhir, semoga kata-kata sederhana ini menjadi bagian kecil perayaan ulang tahunnya. Dan hanya untuknya. 
:)

Selisih


Maaf jika kali ini aku lebih memenangkan egoku untuk diam sembari memikirkan apa yang membuat kita terkadang menjadi begitu asyik dalam keterasingan. Maaf beberapa hari yang lalu aku membentakmu, juga menghardikmu untuk tidak menghubungiku. Maaf jika aku membuatmu cemas tanpa pesan juga kabar dariku. Aku tahu kau sangat mencintaiku, bahkan mungkin melebihi dari yang aku tahu. Aku senang kau begitu perhatian padaku. Aku senang kau menjadi begitu pencemburu: bukankah cemburu merupakan tanda bahwa kita tidak menyerah dalam mencinta?* Tapi kali ini aku rasa kita berseberangan dalam hal 'mencintai'. Di saat-saat seperti inilah terkadang kita perlu melacak kedewasaan kita seorang diri, di situlah sekarang aku berada.

Belakangan kita menjadi sering tak punya waktu untuk berbicara lebih dekat. Kita hanya bertemu dan berlalu begitu saja dengan atau tanpa perasaan yang lekat. Kita menjadi sering kehilangan kesempatan untuk saling mengerti dan mendengarkan. Setiap aku mengeluh, kau ikut mengeluh. Setiap aku marah, kau bahkan jauh lebih marah. Kita lupa, dan hanya saling menyalahkan. Seolah kita bukan lagi dua orang yang berjalan di derasnya hujan. Kita sering lupa bahwa cinta tak hanya cukup kita lalui dengan bersenang-senang atau sekedar tertawa bersama. Lebih dari itu, cinta harus bisa membuka diri, untuk memberi dan menerima dengan setulus hati.**

L, kita sama-sama tahu cinta mungkin mirip semacam dua kaki yang sedang berjalan. Keduanya harus beriringan, sejalan menuju tempat bernama kebahagiaan. Namun barangkali juga sebuah kewajaran jika suatu waktu kita mulus berjalan dengan tawa yang mengembang, dan di suatu waktu yang lain kita harus terjebak dalam kerikil-kerikil ke-egoisan. O iya, untuk yang terakhir ini jangan sering-sering ya? ;)

L, aku tahu aku bukan kekasih yang baik, tapi jangan lantas kamu mengikutiku menjadi kekasih yang tidak baik. Jadilah dirimu yang baik, seperti keyakinan serta kepercayaanku yang menginginkanmu menjadi pendamping terbaik. Kuakui, aku juga bukan pendengar yang baik. Tapi percayalah, aku selalu berusaha mengerti bagaimana cara memahamimu dengan baik.

Maafkan aku jika mencintaimu dengan cara yang terlalu sederhana. Aku hanya ingin mencintaimu tanpa kemampuan apa-apa, yaitu cinta yang hanya meminta dirinya dicintai. Itu saja.

"Aku sok bijak ya? Atau sok tahu?"

Mau bagaimana lagi. Aku sudah lama tidak menulis seperti ini. Aku terlalu sibuk dengan berbagai urusanku sendiri. Rasanya begitu lama kita tidak duduk dan memulai sebuah percakapan kecil, bukan hanya tentang aku, bukan cuma tentangmu, tapi tentang kita. Ah, sepertinya aku jatuh cinta lagi padamu. Tidak apa-apa kan? Lagipula sepasang kekasih tidak berdosa jatuh cinta untuk kedua kalinya.**

Sepertinya benar yang sebelumnya. Rasanya ingin sekali kita segera bertemu. Kita duduk dan berbicara tentang apa saja, terutama mengingat kembali atau sekedar mentertawai kedekatan kita - dari hal-hal terkecil sampai sesuatu yang paling gila.

"Kapan?" ;)

#------------------------------------------------------
- *) Adopsi dari Mario Teguh quotes
- **) Fahd Djibran, Memoria - Curhat Tuan setan
- Malang, 10 April 2013

Rahasia


Kau masih seperti anak kecil, meski sebenarnya kau tak mau dianggap kecil. Bukankah kita sudah sepakat untuk menjadi sekuat baja? Aku yakin kaktus yang sering kita perbincangkan masih menyimpan janji kita, di balik duri-durinya yang runcing, atau turut terkubur pada akarnya yang menyimpan rahasia kita yang paling gila. Apakah kita masih harus meributkan hal-hal kecil ketika kita mengingat rahasia itu? Lantas, kenapa kita masih sering beradu argumen tentang apa yang membuat kaktus-kaktus kita mati menguning?

Ah, sudahlah. Biarkan rahasia-rahasia kita menjadi sesuatu yang terus membuat kita tertawa. Biarlah kita menempuh langkah kita yang paling jauh, sehingga kita sadar dan merasa tak ada seorang pun yang kita kenali, selain aku dan kamu. Biarlah kita berlari melawan kewajaran, untuk selalu berusaha melacak letak kedewasaan kita berada. Sehingga pada saatnya nanti kita bisa kembali bertemu dalam satu atap dan menceritakan kembali rahasia-rahasia yang begitu mudah membuat kita tertawa.

Semoga kau masih mengingat semua rahasia itu. Rahasia yang biasa kita bagi dengan malam, saat kita tertawa atau menangis di bawah langit yang sama. Aku tawarkan malam untukmu, dan aku memintamu membagi siangmu denganku. Bagaimana?

O iya, ingat! ini rahasia. :)

Kamis, 14 Februari 2013

Fucklentine's

Pus,

Adakalanya hari kita kelam berawan, tapi tidak berarti kita tersesat, bukan? Entahlah, tiba-tiba aku merasa demikian. Kita tahu ini bukan perasaan yang baik, bahkan terkadang terasa sangat tidak baik, sehingga perlahan nafas kita berubah menjadi mendung-mendung kelam, yang kemudian membimbing mata kita menjadi hujan. Jika memang demikian, Pus, biarlah sesuatu yang mencair itu membasahi bagian diri kita yang tandus, menyejukkan dan menumbuhkan kembali mimpi-mimpi kita yang mengering. Bukankah rumput yang basah tak akan mudah terbakar?

Pus, kita pernah merasa luka. Kita pernah merasa buta, kehilangan cahaya yang mengalir ke setiap sudut mata. Namun tetap bersyukurlah Pus, setidaknya sampai detik ini masih ada yang rela terjaga mengakrabi keegoisan kita - walaupun kecil, meskipun kerdil.

Pus, perjalanan ini memang tidak selalu indah. Adakalanya kita tertawa bangga, ada masanya kita menangis jatuh, terinjak, kemudian merasa keadaan telah memperdaya kita. Barangkali itulah sebuah perjalanan. Maka jika kau mulai merasa lelah, atau mulai jengah menginjak kerikil-kerikil di depan. Pejamkanlah matamu, rasakan kehadiranku. Jangan takut Pus, ada aku di sini - Tubuh yang bersedia memelukmu dalam setiap jerit ketakutanmu.

Pus, meski ini bukanlah jalan yang pernah kita inginkan, aku bersyukur bertemu denganmu di jalan ini. Perjumpaan kita di sini mungkin bukanlah sesuatu yang sebelumnya pernah kita inginkan, tapi paling tidak di sini kita telah membuktikan bahwa segala sesuatu bisa saja berubah menjadi apa dan bagaimana saja, sehingga kita harus merubah arah dan meraba tumpuan kemana jejak selanjutnya akan kita ciptakan – Setidaknya perjumpaan kita telah membuktikan bahwa indah adalah bukan soal (si)apa yang kita pilih, tetapi tentang apa yang kita usahakan untuknya.

Aku tidak akan memperparah ketidakjujuranku dengan mengatakan aku selalu mencintaimu. Tingkahku, tutur kataku seringkali menyakitimu. Adakalanya aku merasa menjadi seseorang yang paling membencimu. Tetapi apalah arti keduanya, mencintaimu ataupun membencimu bagiku tetaplah membuatmu selalu ada dalam diriku. Aku bahagia bisa berjalan bersamamu di jalan ini. Dan (semoga) aku akan lebih berbahagia jika kita selalu bersama di sepanjang jalan berikutnya. Maka jagalah selalu kebahagiaanku, dan aku akan selalu berjalan bersamamu – menapaki jalan ini dengan yakin, sebesar keyakinanmu untuk terus dan selalu menjalani serta menjaga bahagia bersamaku.

Maaf, cuma ini cokelat untukmu.

| Office, 12:00 - 04:31 WIB | 14 Februari 2013 | 

Selasa, 11 Desember 2012

Bebas


La, barangkali pernah ada yang menanyakan tentangnya kepadamu, "Siapa dia?" Pertanyaan tua, kegalauan pertama yang dirasakan manusia pertama. "Apakah ia merah? Apakah ia hijau? Apakah ia biru? Apakah ia putih? Hitam? Coklat? Kuning? Atau malah tak berwarna?"

Salah satu pendongeng bilang ia adalah kebebasan. Merasakannya adalah keindahan. Matahari yang mengatas perlahan, meninggalkan musim-musim kegelisahan. "Jika demikian La, mungkinkah ia pink?"

La, bagaimana kalau kita mengkajinya sendiri? Kita pejamkan mata kita, dan kita rasakan imajinasi yang mulai menyala-nyala. Kemudian di sana kita lihat burung air yang hijrah meninggalkan musim kecemasan. Kita lihat tariannya, kebersamaannya, juga keberaniannya ke tempat bernama kebahagiaan.

La, barangkali benar ia adalah kebebasan. Ia tidak mengekang, ia membebaskan. Ya membebaskan kita dari rasa cemas dan ketakutan. Ia tidak merantaimu, ia membebaskanmu dari rasa gelisah dan sakit karena terkalahkan. Ia tidak menuntutmu, ia menuntunmu ke duniamu sehingga kau bisa lebih mengenal bagaimana indah yang mampu membahagiakanmu.

La, maka bukalah matamu. Tumbuhkanlah sayap-sayap patahmu kemudian terbanglah dengan caramu yang paling bebas. Di sana kan kau lihat ia membebaskanmu dari air mata dan rasa sakit yang menindas.

Rabu, 05 Desember 2012

Dunia

Kadang aku berpikir, di dunia bagian mana aku bisa menemukanmu? Sehingga hariku tak habis mengamatimu dari balik bayangan semu yang telah kau ciptakan beberapa waktu lalu.

Atau mungkin ke bagian dunia mana aku bisa berlari sehingga manis senyummu terengah lelah dan tak lagi dapat menemukanku?

Di bagian dunia atau di belahan dunia mana aku bisa menjadi begitu pemberani, dan mengatakan apa saja yang aku rasa: "aku menyukaimu dan ingin memilikimu"? 
Ah tidak! Biar kutanam saja jasadku di serambi rumahmu.

Selasa, 13 November 2012

Jejak


Meski hanya dengan menatap punggungmu, atau hanya melihatmu tertawa dari kejauhan aku selalu mencari arah untuk sekedar mencuri kenang sedikit senyummu. Jauh, sejauh kepergianmu yang terus kuikuti dengan permohonan-permohonan kebahagiaanmu.

Maka jika mataku menjadi berkaca-kaca memandang rambutmu yang murung, hingga mengaburkan cara pandangku tentang kenyataan, aku bersedia memejamkannya. Aku hanya ingin melihat kau tersenyum. Aku tak akan tega melihat kau menahan air mata yang menghapus lengkung tipis senyummu.

Bagai doa yang tak pernah putus kupanjatkan setiap waktu, agar Ia membahagiakanmu, dan takdir menghancurkan garis-garis sang waktu, sehingga Tuhan tak pernah memberiku kesempatan untuk mencintaimu.

#Sumpah Ini Keren Fahd

Jumat, 09 November 2012

Pecundang


Kabut mulai turun perlahan setelah tatapan matamu yang aneh menghampiriku. Kemudian kau hempaskan tubuh klise-mu tepat disebelahku, kau mulai menyentuhku. Ada perasaan aneh yang tak bisa kujelaskan.

"Hei kau yang murung, bunuhlah kesedihanmu! bunuhlah kematianmu!" Suaramu menghampiriku lantang. Tidak tersenyum, tapi kutelan kata-katamu.

Ah, rupanya perasaan telah membuatmu bersedih. "Mengapa manusia suka mempertahankan hubungan yang jelas-jelas membuat mereka tak bahagia?"(1) Sudah kodrat mungkin, aku tak tahu. Itulah pertanyaan yang terus mendesah di kepalaku. Gatal jika kubiarkan, perih jika kulenyapkan dengan cara yang salah.

Mungkin bagimu perpisahan hanyalah berupa kata lain dari sebuah perjumpaan baru. Lagi pula aku juga percaya, hidup sejatinya hanyalah perpisahan yang selalu mempertemukan perjumpaan dengan perpisahan-perpisahan baru.

Mau bagaimana lagi, kau hanya pemuda miskin. Hidup cuma mengandalkan belas kasihan orang. Sedikitpun tak ada yang bisa kau banggakan. "Tinggal di kontrakan yang kotor, tidur di kamar lusuh, makan sehari satu kali dengan nasi kerak yang terkadang malah sudah basi."(2)  Apalagi jika sudah berbicara tentang masa depan. Kau hanyalah manusia yang selalu kalah jika dihadapkan dengan materi. Wajar saja, tak ada yang bisa membuat siapa saja tetap tinggal.

Tak ada yang bisa kau salahkan. 'Dia' terlalu berat untuk membuatmu tetap merasa tanpa beban. Kau terlalu memalukan untuk membuatnya tetap tinggal.

Lagi-lagi, semua membuatku bertanya ...

Cinta macam apa yang penuh dengan kepentingan?
Cinta macam apa yang menempatkan 'aku' di depan dan 'kamu' di belakang?
Cinta macam apa yang memposisikan "aku" lebih tinggi daripada "kamu"?
Cinta macam apa yang memenangkan "aku" dan selalu mengalahkan "kamu"?
Cinta macam apa yang menyita kebebasan?
Cinta macam apa yang mengkambinghitamkan air mata sebagai pelengkap kebersamaan?
Cinta macam apa yang berbahagia dengan kebohongan?
Cinta macam apa yang membudayakan acara pembodohan?
Cinta macam apa yang penuh dengan kepura-puraan?
Cinta macam apa yang menghalalkan pembunuhan makna diam?
Cinta macam apa yang mengharuskan 'aku' untuk selalu memilih 'kamu'?
Cinta macam apa yang memaksakan kamu untuk terus bersamaku?(3)

Bisakah kau menjawabnya? Aku tak tahu, kecuali menjawabnya dengan satu kata, takut.

NOTE:
- (1) Fahd Djibran.
- (3) Diadopsi dari tulisan Fahd Djibran - Tentang Kita.
- Malang, 09 November 2012.

Senin, 05 November 2012

Kita



Kita telah banyak singgah di tempat-tempat berbeda, tempat yang nyata juga tempat impian yang seringkali kita impikan, tempat yang indah juga biasa-biasa saja. Kita pun akhirnya sama-sama tahu bahwa kita adalah ia yang masih hijau soal kehidupan. Kita pun pada akhirnya menjadi mengerti bahwa perjalanan menemukan surga di dunia ini saja memanglah bukan sesuatu yang selalu menyenangkan. Tak jarang kita bersentuhan dengan tangis, dengan luka, dengan air mata, yang membuat hati kita terasa begitu nyeri dan sakit. Ya, akhirnya kita tahu bahwa hidup memang tidaklah mudah. Tetapi, syukurlah, sejauh ini kita berjalan kita masih terus berusaha menjaga langkah ke depan. Meski terkadang kita jatuh, atau berjalan dengan kaki yang pincang.

Kita telah berjalan begitu jauh. Sudah banyak hal yang kita bicarakan, juga telah cukup kita saling mendengar. Sejauh ini kita telah dalam satu jalan yang sama, alur yang sama, tawa yang sama, hujan, dan air mata yang (mungkin) serupa. Kita telah saling turut mendengar, melihat, merasakan, memahami, juga berusaha saling mengerti. Ada banyak hal yang telah kita lalui, menyenangkan atau menyedihkan, tawa atau air mata. Tapi bukan itu masalahnya, kita belum sepakat untuk terus berjalan meluruskan cinta kita dengan sang waktu.

Waktu memang masih menjadi rahasia yang anggun dengan segala pesonanya. Kita tak pernah tahu sampai kapan kita akan masih bisa terus berjalan bersama. Sehari atau dua hari lagi, seminggu atau sebulan lagi, sebentar atau selamanya. Kita tak pernah tahu, karena kita dengan waktu adalah dua hal yang berbeda. Meskipun waktu jualah yang menyatukan kita dengan pertemuan, juga perpisahan. Namun kita punya hak untuk menentukan apa yang akan kita lakukan saat ini. Apakah kita akan mengakrabi kata “berhenti”, atau terus berjalan dan bangga menjadi sebagian dari mereka yang berhasil menang dari kata “menyerah”. Itu pilihan, kau pilih yang mana?

Inginku, aku dan kamu tetap menjadi kita yang terus berjalan menghapus kata “berhenti” dan “menyerah”, untuk terus berjalan sampai pada akhirnya kita bertemu di suatu tempat yang indah, tempat aku dan kamu mengikat sebuah janji untuk yang pertama sekaligus yang terakhir kali.

Menurutmu kenapa kita sejauh ini begitu akrab dengan air mata? Mengapa kita merasa begitu terasing dari hiruk pikuk kebahagiaan yang terhampar disekitar kita? Ya, karena kita belum menciptakannya. Kita tahu, kebahagiaan bukan sesuatu yang kita temukan, tetapi kebahagiaan adalah sesuatu yang kita ciptakan. Lalu, kenapa kita tidak berusaha menciptakan kebahagiaan kita sendiri? Jadi, bersediakah kamu melengkapi salah satu kakiku yang telah pincang? Maukah kamu menemaniku mencipta kebahagiaan itu?

Ah, aku mungkin terlalu berkhayal. Atau mungkin aku telah begitu lancang bermimpi begitu jauh ke depan, mau bagaimana lagi. Tapi, jika kau tak menghendaki berjuang bersama mencipta kebahagiaan itu, maka kau tak perlu hidup bersamaku. Jika kau ingin memposisikan “aku” selalu di depan dan “kamu dibelakang atau sebaliknya, kau juga tak perlu berjalan bersamaku.

Tidak perlu buru-buru, waktuku masih banyak. Masih cukup berani untuk mengulang enam purnama yang luar biasa :). Yang ku mau bukan soal “Iya” atau “Tidak”, tetapi kesungguhan untuk saling berbagi kebahagiaan bersama seseorang yang sampai saat ini masih serba kekurangan: diriku.


| Trenggalek - Malang, 21 Oktober 2012 |

Senin, 01 Oktober 2012

Tuhan Yang Baik


Tuhan Yang Baik ...

Kami telah melewati semuanya bersama, tertawa bersama, menangis bersama. 
Kami telah saling menyukai, diantara kami telah saling tumbuh rasa percaya.
Juga ada semacam ikatan untuk saling menjaga.

Ya, kami 'hampir' memiliki semua yang diperlukan untuk bekal perjalanan bersama. 
Selebihnya berilah kami satu kekuatan saja. 
Satu kekuatan yang akan mengutuhkan dan mengisi kekurangan untuk menjalani semuanya dengan baik.

Satu saja, berilah kami kekuatan untuk saling mencintai sampai mati, itu saja ...

:)

Kamis, 20 September 2012

Lelap


Kau adalah kenangan yang datang dari balik kerumun yang tak (mau) hilang pada malam-malam sepi. Pada rumput basah menjelang pagi, pada rumput hijau tempat kita berbaring menatap lurus gugusan cakrawala. Kau tahu sayang? Esok pagi di tempat ini hanya ada segala hijau, rumput-rumput yang menjulur tegak, angin berhembus lirih menyegarkan mimpi kita semalam. Mengabulkan harapan yang belum terlaksanakan, juga mimpi yang masih tak tersentuh kenyataan.

Ini benar sayang, aku belum puas menatap wajahmu semalam. Lekuk hidungmu yang menjatuhkan, lesung pipimu yang merindukan, senyum serta pandanganmu yang teduh dan menyegarkan. Sungguh aku ingin selalu di sana, berlama-lama, bercengkerama di sana. Di sana aku sembuh, beberapa bagian yang telah menjadi rongsokan dalam diriku menjadi pulih. Jika ada malam yang tak kunjung reda, biarlah hari ini saja. Biarlah mataku sembunyi dari sebalik sudut gelap, menuju terang dimana kau ciptakan taman bunga tak kenal musim di sana, di wajahmu.

Bagaimana kalau kau ajari aku cara menyimpanmu saja, agar kau tetap di sini, bersamaku? Merupa jejak dingin yang tertingal di jendela, atau sekedar mengingat mimpi yang tak kunjung selesai. Aku tak ingin sendiri, inginku malam ini. Meski harus kuakui dihari-hari biasa malam tak pernah membiarkanmu dalam hilang, dalam pulas mimpi orang-orang kelelahan.

Ah, aku tak mungkin terus memaksamu di sini. Memaksakan kehendak sendiri yang belum pasti kau sukai. Lagi pula bibirmu belum sempat mempubliskannya, :) 

Sekejap pagi menjadi dingin. Lalu diantara kita hanya diam, mata terpejam sampai kabut membasah. Membiarkan mesra tetes bening menyentuh dedaunan secara perlahan. Kita terlelap.


*---------------------------
- Malang, 17 September 2012

Selasa, 18 September 2012

Allien


Kau adalah orang aneh. Salah satu makhluk paling aneh  yang ada dalam pandanganku.Orang aneh yang merindukan, orang aneh yang mengagumkan.

Kau selalu bisa membuatku jengkel karena tingkahmu yang aneh di mataku.
Kau selalu bisa membuatku marah karena kepolosanmu.
Kau selalu bisa membuatku senang karena kau tahu apa yang kusukai.
Kau selalu bisa membuatku geram karena hobimu yang membuat tubuhku memerah.
Kau selalu bisa menyadari kegelisahan yang kusembunyikan.
Kau selalu bisa merasakan apa yang kurasakan.
Kau selalu bisa menebak apa yang sedang kupikirkan.
Kau selalu bisa bertanya dengan jeli pada setiap keganjilan yang terjadi padaku.
Kau selalu bisa membuatku khawatir karena kepalaku yang tak henti memikirkanmu.
Kau selalu bisa membuatku resah karena takut terjadi sesuatu padamu.
Kau selalu bisa membuatku gelisah karena takut ada sesuatu yang dapat menyakitimu
Kau selalu bisa membuatku berada di sismu tanpa harus kau meminta.
Kau selalu bisa membuatku bahagia karena kau telah membiarkanku bersama orang-orang aneh yang pernah kutemui.
Kau selalu bisa membuatku menangis karena menyadari tak selamanya kau berada di sisiku.

Semuanya kau lakukan dengan tindakan khas, atau lebih tepatnya aneh bagiku. Aku tidak perlu kata-kata untuk meminta, karena kau tahu apa yang tepat untukku.
Hei, apa aku terdengar seperti seorang bocah yang kelewat percaya diri?

Mau bagaimana lagi, kalau itu semua memang terjadi padaku?
O iya, satu lagi. Kau berhasil melakukan satu hal lagi. Kau sukses menyita perhatianku.

"Jika suatu saat nanti kita dewasa, apakah kita bisa mengikat sebuah janji?”

Jumat, 07 September 2012

Hujan


Barangkali kesedihan berkali-kali telah menjamah tawaku. Lebam, luka berdarah-darah. Lalu seketika angin datang mengeringkannya, mengusapnya perlahan, dan membawanya berlalu begitu saja. Hujanpun mengalah, turut serta menyembunyikan tangis yang sejenak sempat tertahan.

Aku pernah merasa menjadi manusia paling dikhianati di dunia, sering merasa menjadi seseorang paling bersalah, juga tak jarang aku menjadi ia yang paling bermasalah. Beberapa kali aku membunuh sepi, membantai kesendirian dengan nyanyian pilu yang melengking di penghujung malam. Beradu tawa dengan kepulan asap yang membumbung, mengisi setiap sudut kamar. Aku memang tak pernah punya teman untuk sekedar mendengarkan apa yang kurasakan. Demikianlah caraku menangis malam itu. Hingga tiba-tiba kau mengagetkanku, "Kapan hujan turun?" Nada penuh harap terbaca dilayar sahabat keduaku.

"Tidak akan lama lagi." Jawabku dengan beribu pertanyaan menghampiri. "Kamu kenapa?" Lanjutku.
"Kenapa bagaimana?" Seperti biasa, kamu balik bertanya.
"Aku lihat harimu menjadi mendung."
"Ah perasaan kamu saja." Kau menjawab. Sejenak pikirku melayang, membuka lagi ingatan segala peristiwa yang mempertemukan kita dengan kedekatan.

Lalu ku jawab, "Perasaanku gak pernah salah." Ya, memang perasaanku selama ini tak pernah salah terhadapmu. Sama seperti hujan yang turun secara perlahan, membasahi bumi yang kemudian menjadikannya hijau. Tak pernah salah, layaknya kita tahu wangi tanah dihari pertama turun hujan.

"Syukurlah." Timpalmu, masih dengan nada yang sama.
"Semoga kamu baik-baik saja." Kataku lagi.
"Aku akan selalu baik-baik saja." Rupanya kau coba meyakinkanku.
"Kamu yakin?" Tanyaku.
"Maybe."
"Kamu aja gak yakin. Sudahlah akui saja kalau kamu sebenarnya lemah." Aku sandarkan tubuh lusuhku pada tembok kamar. Handphone berdering 2 kali, kuabaikan. Aku terlanjur nyaman bermesraan dengan pikiran yang mulai liar. Meraih Dunhil putih, kunyalakan sambil mengingat momen terakhir kali aku menangis dibawah lebatnya hujan.

"Lalu kau akan mengasihaniku? Sudah kukatakan kalau aku bukanlah karang." Jleb! Tiba-tiba kurasakan gempa tektonik yang sama sekali belum pernah ditayangkan media elektronik sekalipun. Aku diam, kau diam. Dalam hening yang mendalam kutatap wajahmu seperti hujan yang baru reda. Ada sisa-sisa gerimis yang seakan tak ingin segera beranjak dari sana. "Lantas sampai kapan kamu akan pura-pura kuat? Sampai nanti turun hujan?" Tanyaku kemudian.

"Aku gak pura-pura kuat. Aku memang harus selalu kuat." Jawabmu sedikit menunduk, menatap hampa. Kulihat rintik hujan yang tampak malu-malu disana. Setitik, dua titik, dan beberapa titik sebelum hilang kau sapu dengan tangan lembutmu. Luar biasa, pikirku. Samar-samar kulihat padang gersang dipenuhi terik matahari di sana. Hari-hari panas, debu-debu bertebaran mengaburkan mimpi yang tiba-tiba menjadi senja. Tapi kau tak pernah berubah. "Aku ingin sepertimu." Kau selalu menjadi langit yang membiaskan pelangi, tak peduli berapa tetes air yang ingin berangsur turun tanpa bilangan. Kau adalah sarang kokoh awan-awan kelabu yang mengirimkan rinai hujan, tanpa bilangan.

"Jangan!" Tiba-tiba katamu lantang.
"Kenapa?"
"Kamu bukan orang yang kuat untuk pura-pura kuat."

Aku mengernyitkan dahiku sejenak, mencerna kedalaman kata yang kau sampaikan. Ya, aku memang selalu terbakar mentari yang aku lukis sendiri. Aku bisa berbohong kepada orang-orang, tetapi sulit kepada hujan. Bahkan di bawah derainya pun, tangis itu masih menggema sampai ke langit. Sekali lagi benar katamu, aku selalu mengeluh untuk menutupi kelemahanku. Sementara di ujung sana, pelangi bermekaran seperti bunga-bunga di musim semi. Indah dan terang. Tapi aku tak berani menunggunya. Aku selalu kalah, terbakar kilauan cahaya mentari yang ku ciptakan sendiri. Aku harus segera bergegas, pikirku. Aku tak mungkin selamanya tinggal di ruang tak berpintu ini. Aku harus segera berlari memburu mentari yang berjatuhan.

"Kamu aja bisa, kenapa aku enggak? Aku lebih kuat dari kamu." Kataku tak mau kalah.
"Coba saja." Katamu sambil tersenyum.
"Tiap hari aku selalu mencoba."
"Berhasil?"
"... Nihil."

Dalam hati, kita saling melihat. Tawa kita bertemu, di hari ketika hujan belum juga reda.



*---------------
- Music Kiss The Rain By Nhocrain
- Percakapan ini nyata, tapi tentu saja dengan tambahan gula dan garam. :)
- Hatimu, 5 September 2012

Rabu, 05 September 2012

Kepastian


Ini bulan ke-3, minggu ke-12, hari ke-90 sejak pertama kali kau duduk di dekatku, menikmati aroma coffee float, dan menanyakan beberapa hal.

Aku masih ingat saat kita melempar tujuan kemana motor yang kita tumpangi akan melaju.
Aku masih ingat betul pewarna yang menepel di bibirmu malam itu.

Hingga malam itu tiba.
Malam ketika kita duduk berdua di tempat berbeda.

"Ey, kita ini apa?" Tanyamu, ragu-ragu.
"Kita?" Jawabku santai.
"Kita adalah dua manusia yang merindukan bahagia."
“Aku serius”. Katamu dengan rona berbeda.

“Hex, ini bulan ke-3, minggu ke-12, hari ke-90 sejak kedekatan kita”. Ya, aku benar-benar menghitungnya. Aku bahagia ketika kau memberiku kejutan tak berkelas di hari ulang tahunku. Aku suka saat kau perhatian padaku. Aku suka saat kau menggangguku tengah malam. Aku suka saat kau menghukumku dengan sebungkus Nasi Padang yang harus ku antar ke tempatmu.

Tetapi Ey, aku perempuan yang lebih suka diberi kepastian.


NOTE:
- Malang, 21 Juli 2012
- Inspirasi dari SINI

Kamis, 30 Agustus 2012

Menangislah


Malam, aku mengerti murung wajahmu dibalik senyum yang sengaja kau tampakkan. Getar suaramu, juga perih bola matamu yang memerah. Aku merasakan suara merdu dalam gemuruh dadamu, tahu benar nyanyian parau yang melengking dalam sudut gelap hatimu. Aku adalah kamu, tawa yang kemudian menangisi pahitnya sebuah kebohongan.

Dialah ketidaknyamanan yang mengajarkan kebahagiaan.

Selamat datang rasa nyaman. Kita tak akan pernah bertemu seandainya ia tak datang menjajahku, mengisi sela-sela kosong dalam benakku. Aku bangga memilikimu, sesuatu yang selalu mengingatkanku betapa sesaknya menangis tersedu. Aku memilih untuk memilikimu, kegelisahan. Untuk selalu belajar menerima dengan lapang kesalahan orang lain yang menimpaku, juga untuk selalu belajar memaafkan diriku. Sesaat, mungkin aku harus melepasmu, dan menggantimu dengan rasa yang lebih banyak membuatku tertawa. Tapi tidak untuk selamanya, karena cukup dengan senyum aku menikmati indahnya bersamamu, kegelisahan.

Dialah bisikan lembut dalam hatimu yang sering kau abaikan.

Apa yang kau rasakan ketika hati dan pikiran tak lagi selaras menafsirkan berbagai kosa kata yang singgah dan berlalu begitu saja dalam hidupmu? Akankah kau beli kamus untuk menjelaskan setiap kata di dalamnya? Tak ada yang bisa kita lakukan selain meminta apa yang ada dalam diri menceritakan berbagai pelajaran yang membuat kita semakin dewasa. Maka dengarkanlah ia, sesuatu yang berusaha berbicara dengan nada terbata-bata, yang seringkali kita abaikan meski kita tak pernah ragu akan kebenarannya.

Dialah penyejuk yang tak selalu bisa kita terima.

Ialah sesuatu yang selalu ada ketika manisnya hidup tak lagi kita rasa. Tetesan kecil yang memberi kedamaian. Ya, dialah air mata. Satu-satunya cara mata berbicara ketika bibir tak mampu menjelaskan perasaanmu yang terluka. Menangislah jika memang sesuatu yang memuncak itu perlu keluar dari sudut matamu. Tak perlu lagi kau hiraukan sekumpulan teori yang mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Sesungguhnya bukan tawa yang membuat kita terlihat lebih kuat. Lagi pula untuk apa kita terus berdaya dalam kepura-puraan, sedangkan diri sendiri pun tahu jika air mata terkadang lebih berharga untuk membayar semua luka ketika ia menetes dan menyisakan bekas sembab. Menangislah jika perlu, jangan ragu, dan tak perlu malu.


- Malang, 27 Agustus 2012 -

Kamis, 02 Agustus 2012

Tak Terdengar





Mungkin inilah satu dari sekian kesalahan yang pernah kita harapkan. Seperti sekarang ini.

“Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?” tanyamu bimbang.

Ini bukan pertama kali kau datang menghampiri keraguanmu pada sikapku. Tidak sering, tapi paling tidak aku sudah merasa tak perlu lagi memutar otak untuk mengingatnya kembali.

“Kenapa emang?” Aku balik bertanya.
Kamu diam, aku diam, seperti biasa.
Lalu dengan ragu kau menjawab, “Kamu tak sehangat dulu lagi. Kau tak lagi memanjakanku. Tak pernah telpon, juga sms. Kau dingin.”

Aku tertawa, kau cemberut. “Karena kita sibuk dengan urusan masing-masing”.
“Bukannya aku selalu memberimu kabar atas setiap kesibukanku?” Katamu.
“Dan aku tidak ingin mengganggumu.” Jawabku.
“Bahkan sekarang kamu nggak pernah lagi bilang ‘Aku Cinta Kamu’. Dulu aku selalu mendengarnya setiap hari, menjelang aku tidur. Tapi sekarang aku nggak pernah mendengarnya lagi.”

Aku buka mulutku dan ku naikkan kedua sudutnya, semakin keras. Kau memasang muka melas, sedikit ganas. “Ah sudahlah, lupain aja. Aku aja yang lebay.” Katamu lagi.
“Aku senang kamu selalu lebay dalam mencintaiku.” Sahutku.
“Oya?” Jawabmu singkat.

Aku hanya bisa tersenyum melihat sisi lainmu yang indah. “Kalau begitu maafkan aku.”
“Kamu nggak salah”. Jawabmu masih cemberut.
“Beneran aku minta maaf.”
Sambil terus menunduk kau bilang, “Sudahlah, kamu nggak salah. Aku aja yang terlalu lebay.”

“Maafkan aku kalau kamu nggak bisa mendengarnya.” Kataku.
“Maksudmu?” Tiba-tiba kau menatapku.
“Selama ini sebenarnya aku selalu bilang kalau aku cinta kamu. Tapi barangkali kamu tak bisa mendengarku. Aku selalu mengatakannya menjelang tidur, saat kita jauh, atau kapanpun saat kita sedang tidak bersama.”

“Kenapa?”
“Aku ingin kau merasakannya, bukan cuma mendengarnya.”
“Tapi terkadang aku perlu mendengarnya juga kan?”
“Iya sesekali, tapi tidak setiap hari.”

“Ah, itu pasti alasan kamu aja.”
“Memang. Sekarang aku tidak mencintaimu lagi seperti dulu. Tapi sekarang aku sangat mencintaimu.”
“Ah, kau merayuku.”

“Kamu tahu, aku mencintaimu tanpa harus mengatakannya. Aku tak hanya punya bibir untuk mengatakan jika aku mencintaimu. Aku lebih suka mencintaimu dalam hati, ditempat paling rahasia yang hanya aku dan Tuhanku yang tahu. Karena dengan begitu aku lebih bisa menikmati kesungguhanku. Maaf jika kamu tak sependapat dengan caraku.”

Kau tersenyum, seolah telah kau buang semua kecurigaanmu terhadapku.

“Aku mencintaimu.” Dengan yakin ku katakan kepadamu.
Tapi kau hanya diam sambil memejamkan mata. Tak membalas ucapanku.

“Kok nggak di balas?” Kataku.

“Kamu tak bisa mendengarnya,” jawabmu, sambil tersenyum dan masih memejamkan mata, “Aku menjawabnya dalam hati. Jauh di kedalaman paling rahasia yang hanya aku sendiri yang tahu.”

Aku tersenyum, kamu tersenyum.
“Ah, betapa indahnya cinta kita yang tak terdengar.” Kita mengigau.


NOTE:
- Diadopsi dari Rahasia - Fahd Djibran

Senin, 30 Juli 2012

Monolog di Pagi Buta


Barangkali akulah sebagian orang yang tak sanggup mengingat saat pertama kali orang itu membisikkanku lantunan indah, suara yang sekarang lima kali sehari selalu aku dengar. Akulah ia yang tak selalu mendengar doa serta harapan apa saja yang orang itu syairkan, dalam sujud perenungan, dalam peluh keringatnya bekerja.

Aku kembali ke tempat dimana pertama kali orang itu membentakku. Tempat yang menjadi segala sesuatu tentangnya menjadi begitu menyebalkan. "Pergi sana, pergi dengan dia kebanggaanmu!!". Suara paling menyakitkan yang pernah aku dengar. Tajam dan cadas!!

"Ah, kau terlalu kolot. Tak pantas kau hidup di jaman ini. Tak pernah muda dan gagal kau menjadi tua". Makiku yang berlalu dengan tarikan gas dan suara pembuangan yang ku buat sangat tidak nyaman. Dan aku pergi, dengan bekal dendam dalam hati.

Hingga saat ini, di pagi buta ini, dengan segenap dendam dan kepala batu yang mencair aku perhatikan wajahmu yang terlelap. Kenapa kau menjadi begitu pemalu. Jutaan makian menghantam dadaku. Bisakah aku menjadi lelaki tanpamu? Bisakah aku menjadi demikian bertanggung jawab seperti dirimu? Bisakah aku menjadi begitu penyayang tanpa mulut berbusa dengan sedikit kata seperti dirimu? Aku tak akan bisa, yakinku.

Maafkan bibir ini yang terlalu malu menyebut namamu. Maafkan aku yang demikian pelupa bagaimana risaunya jiwamu ketika mendengarku jatuh sakit, atau sekedar kehabisan bekal dalam perjalananku. Kepala ini terlalu besar, kemudian meledak, lalu membuatku tersungkur seakan tak berotak dengan baju, celana, handphone, motor, dan isi dompet yang dengan bengis terlanjur ku akui menjadi milikku sendiri.

Maafkan aku yang selalu menjadi batu atas setiap kata yang terlontar dari mulutmu. Barangkali benar, akulah ia wajah-wajah yang tak tahu malu mengakui segala milikmu. Akulah ia yang tak selalu memperhatikan guratan di dahimu. Dan seketika, bukan hanya air mata yang mengalir dari dalam jiwaku. Tetapi juga cinta.

Maafkan aku ayah, maafkan anakmu yang belum sempat membahagiakanmu.


- Malang, 28 Juli 2012 -

Sabtu, 23 Juni 2012

Perpisahan


Saat ini mungkin kehilangan demi kehilangan telah membuat kita terbiasa. Kau tidak lagi menangis ketika kenyataan merusak kenyamananmu. Setidaknya saat ini kau tidak lagi menangis ketika harapan tak lagi dengan kenyataan yang ada dihadapan. Tapi apakah memang kau telah benar-benar kuat atau hanya sekedar berusaha kuat?

Kamu tidak harus mengikuti langkahku jika ini bukan jalan yang kau kehendaki. Kamu tidak harus pergi ke tempat yang aku tuju jika itu bukanlah tempat yang menjadi tujuanmu. Bukan hak kita saling memaksa. Aku tak akan menyeretmu ke jalanku, juga aku tak bisa kau tarik ke jalanmu jika jalan kita memanglah berbeda.

Apakah aku berhak menyebutmu 'perempuanku' lalu kemudian menyeretmu kemanapun aku mau? Sementara aku tahu tidak ada sesuatu yang bisa aku banggakan dariku. Aku rasa kau juga tak punya hak untuk menetapkan siapa yang akan menjadi 'lelakimu'. Kecuali hanya berharap Dia menjawab do'amu.

Ini bukan berarti aku tidak setia lagi. Lagi pula untuk apa kita saling setia ketika kita adalah orang-orang yang mempunyai jalan berbeda? Lupakanlah kesetiaanmu padaku. Kesetiaanmu padaku atau pada dunia hanya akan melahirkan kekecewaan-kekecewaan baru. Karena memang bisa saja suatu saat nanti salah satu dari kita harus berbelok ke jalan berbeda. Tidak usah setia padaku. Setialah pada semangat dalam dirimu untuk terus menjadi lebih baik.

Jika berjalan bersamaku membuatmu merasa semakin menjauh dari tujuanmu, menjauhkanmu dari diri sendiri, membuat dirimu semakin hilang dan lupa pada tujuanmu, mungkin memang inilah waktunya kita untuk berpisah. Tidak perlu ragu, tidak usah menangis. Orang yang kuat tidak akan menangis untuk sesuatu yang belum ia tahu.

Kita bisa berpisah kapan saja dan di mana saja. Karena hidup sejatinya adalah perpisahan yang akan terus berulang. Lagipula perpisahan hanyalah persoalan kapan. Bahkan sebenarnya saat ini perpisahan itu sedang bersama kita. Tapi kau tidak menangis kan kali ini? Semoga begitu juga dengan perpisahan-perpisahan yang akan kita temui selanjutnya. Teruslah menjadi dirimu yang mampu menerima serta menghadapi segala sesuatu yang tak mungkin kita hindari. Tak terkecuali dengan perpisahan.

Ini bukan berarti aku menghendaki suatu perpisahan. Aku hanya tahu, suatu saat nanti kita akan bertemu dengan sesuatu bernama perpisahan. Sehingga saat itu tiba, kita akan benar-benar tahu, itulah yang sebenarnya sedang kita tunggu sekarang.

Kamis, 21 Juni 2012

Untukmu Wanita


Hatimu, aku selalu bermimpi suatu saat nanti berkunjung kesana. Bukan sebagai pelarian untuk mendamaikan kegelisahanku, sebab tak ada yang perlu ku damaikan ketika ku rasa dekat denganmu. Aku ingin bertemu denganmu di sana, di hatimu, yang selalu menyisakan tempat nyaman dalam setiap ketidaknyamanan serta keterasingan yang kau dapatkan dari dunia.

Hatimu, aku ingin tumbuh dan hidup di sana. Merasakan kedamaian dari bilik yang menjadi tempat spesial yang kau persembahkan untuk seseorang yang selalu kau sebut namanya dalam setiap sujud di keheningan malammu. Aku ingin berbaring di lapangnya hati yang selalu kau sediakan untuk siapa saja yang pernah menyakitimu, merasakan indah serta lembut yang biasa kau sampaikan kepada mereka melalui tingkah serta lakumu.

Hatimu, ijinkan aku ke sana. Melangkah bersamamu serta merayakan keberhasilan atas setiap tetes air mata yang kau tumpahkan dalam sujud serta doamu. Maafkan kami yang demikian bodoh melupakan sentuhan lembutmu. Maafkan kami yang demikian sombong lupa bagaimana kau menyuapi kami, memandikan kami, mengusap kepala kami, serta mengajari kami bagaimana tentang dunia yang tak selalu suci. Maafkan kami yang selama ini begitu pemalu mengakuimu sebagai wanita kami.

Maafkan kami yang lupa bagaimana engkau terbangun di tengah malam demi melayani kami yang merengek dengan sadis. Maafkan kami wanita, kami tak selalu ingat bagaimana kau rela kedinginan atau terjaga sampai pagi demi melihat kami tidur nyenyak dengan selimut yang membalut tubuh kami. Maafkan kami yang demikian pelupa bagaimana air matamu menetes ketika menyaksikan kami terbaring lemah tak berdaya. Sementara kau wanita, tetap saja begitu mulia memendam ketulusan dalam senyum yang tak pernah berubah.

Maka katakanlah wanita, katakanlah bagaimana aku bisa sampai ke sana, sampai di hatimu dan kembali menangis tanpa rasa malu. Katakan kepadaku yang begitu pelupa, bagaimana tempat separuh surga yang biasa ku habiskan semasa kecil dulu. Katakan kepadaku tempat biasa aku merengek, menangis, serta melampiaskan apa saja yang ku anggap menyebalkan. Katakanlah, katakanlah wanita tentang tempat separuh surga itu agar aku bisa kembali ke sana serta menikmati dekapanmu lagi.

Dan sungguh aku ingin ke sana. Ke hangat pelukmu, ke lembut belaianmu, ke nyaman pangkuanmu. Kan kutakan segala rindu serta kegalauanku terhadap dunia yang terkadang tak lagi menyisakan keramah-tamahan lagi bagiku.

Wanitaku, aku rindu dan ingin menangis lagi di pangkuanmu. Bukan di sini, di pangkuanmu saja.



- Lord Rock, 21 Juni 2012 -

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews