Tampilkan postingan dengan label Brainware. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Brainware. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 November 2012

Kemapanan

 

Dalam kemapanan, kau merasa memiliki apa-apa yang ada di dekatmu dan bisa kau jamah.
Dalam limpahan hartamu, kau merasa menjadi raja bagi dunia kecil yang kau jaga.
Dalam kemapanan, tersimpan rasa cemas, juga takut akan kehilangan semua hal yang kau rasa milikmu.
Lalu benarkah kemapanan hanya membuat kita menjadi manusia yang serba gelisah? Ah, aku tak tahu. Aku masih kere: belum mapan.

Kamis, 01 November 2012

Curhat Dede' Setan


Untuk diriku,
Halaaaah! Kenyataan emang kayak gini kaleeeee. Sedih, sepi, kadang pait, kadang getir. Nggak pasti boy...

Siapa sih yang nggak ngerasain sedih? Siapa sih yang nggak ngerasain kesepian? Semua orang ngerasain itu. Hidup nyata itu emang sepi dan sedih. Semua orang juga tau. Kamu terlempar ke dalam hidup ini dengan penuh resiko. Kamu nggak akan pernah bisa bahagia di manapun atau sama siapapun kalau kamu nggak bisa bahagia sama diri kamu sendiri. Kamu nggak bakal bisa bahagia kalau kamu nggak bisa bahagia dengan kesepianmu.

Apa sih yang kamu miliki dalam hidup ini? Orangtua, keluarga, temen, pacar? Ah, bulldog!!

Kamu nggak pernah memiliki apa-apa. Semua di dunia ini cuman dateng dan pergi. Mereka nggak bisa selalu ada buat kamu. Kamu juga nggak harus selalu ada buat mereka. Karena kamu dan mereka emang harus ngebangun kehidupan masing-masing. Kamu nggak pernah bener-bener memiliki mereka, sebaliknya mereka nggak pernah memiliki kamu.

Kita semua orang merdeka, sebelum kita mengenal kepemilikan. Hidup itu nggak keras. Dunia nggak keras. Dunia ya kayak gini ini. Kalo kamu emang nggak kuat, akuin aja kalo kamu nggak kuat. Jangan nyalahin ruang hidupmu yang terlalu keras.

Ngakuin dirimu lemah itu salah satu cara buat kenal sama diri kamu sendiri. Kamu tau apa yang kamu bisa, apa yang enggak. Kalo kamu belum kenal sama diri sendiri, nggak usah ngaku kamu kenal sama orang laen. Coba urus diri kamu sendiri dulu. Karena itu satu-satunya yang bener-bener kamu punya. Bukan dunia ini, bukan orang-orang di dalamnya, bukan apapun. Tapi kamu, milikmu sekarang ya diri kamu sendiri.

Hal paling riil yang bisa kamu lakukan saat ini itu cuma dua. Pertama, ambil kembali milikmu yang selama ini hilang. Kalo suka bilang suka, kalo enggak ya bilang enggak. Kamu harus tegas sama diri kamu sendiri. Sampek kapan kamu bakal kayak gini trus? GOBLOK!!! Trus yang kedua, TIDUR. Paham???

Besar-besarin perasaan sedih, bahagia, kesepian, sakit, dan semacamnya adalah hal konyol. Inget, HAL KONYOL. Semua orang ngrasainnya, TOLOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOL.

Udah deh, mending kamu mati aja. Eh, maksud ane mending kamu tidur aja. Nggak usahlah sok jadi Es Batu, sok sok mau ngorbanin tahu tempe kayak gitu. Ane paham, ane ngerti boy, ngerti. Aku yakin kamu nggak tolol-tolol banget kok kalo sama hal-hal yang kayak begini. Udah, nggak usah kayak keledai flu gitu. Buka tuh matamu, liat noh ada apaan didepan. Madu murni juga masih jualan noh.

Oke boy, semangat-semangat. Cheeeeeeeeers ...

******************

Kita sering lari dari ketidaknyamanan, dan lebih memilih menghindarinya dengan menciptakan hal-hal yang kita anggap lebih menyenangkan. Tapi sampai kapan kita akan terus-terusan lari dari kenyataan?
Apabila kita terus menerus lari dari diri sendiri, lalu kapan kita akan berkenalan dengannya?

Rebut kembali apa yang selama ini hilang: dirimu!!!

Sabtu, 29 September 2012

Tuhan?

Benarkah Tuhan itu ada?
Benarkah Tuhan Maha Besar?
Benarkah Tuhan itu Maha Kuasa?
Lalu apakah Tuhan Yang Maha Besar dan Maha Kuasa bisa menciptakan sesuatu yang melebihi kuasa dan kebesaran Tuhan itu sendiri?

Maaf Tuhan, pikiranku aneh-aneh.
Tapi bukankah Engkau juga yang menciptakan akal ini?

Sabtu, 08 September 2012

Sabtu


Apa tanda jika ini adalah malam?
Kecuali kegalauan yang merangkak memeluk pikiran secara perlahan.
Juga pucatnya bulan yang mengintip dari balik jendela berdebu dengan enggan.
Kubayangkan kau yang merajuk manja minta dikecup, dipeluk, dan ditemani mencapai mimpi.

Perempuan, apa yang lebih memabukkan dari senyummu? 
Suara tawamu seperti sajak yang dibacakan pujangga di atas altar pesta kematian. 
Tangismu sadis, mengiris aku yang pincang menyebutnya kasih sayang.

Kemudian jumat menangisiku. 
Mungkin inilah perpisahanku dengannya, sebelum ia pamit dan berpesan kepada sabtu yang menanti.
Perempuan, aku tak sempat mengenalmu.
Hanya membacamu sesekali, sebelum akhirnya aku terjatuh dihari sabtu.

Sabtu, 01 September 2012

Di sini Kami telah membunuh-Mu, Tuhan


Hancur sudah bumi-Mu Tuhan. Kami telah saling mengkafirkan. Mata kami, telinga kami, naluri kami sudah tak lagi peduli akan kebenaran. Kami telah saling bakar, saling bunuh, saling berebut benar atas nama-Mu. Tuhan, Engkau tahu kan apa yang terjadi belakangan? Jerit tangis bayi, rintihan suara ibu, bau asap rumah-rumah terbakar, sekelompok manusia dengan celurit dan balok kayu digenggaman menatap penuh dengan kebencian.

Apa yang terjadi dengan kami Tuhan? Dimana naluri atas nama-Mu yang biasa kami teriakkan? Dimana Engkau sembunyikan Tuhan? Ataukah telah tertutup sajadah kami, kitab suci kami, atau logika kami yang tak sampai? Tuhan, bumi-Mu kini mengerang, memerah diselimuti darah, memanas penuh bara. Fatwa-fatwa pribadi, kebenaran sendiri telah menjadi pedang tajam yang menembus dan menghancurkan nilai-nilai manusiawi dalam diri kami.

Tuhan, sejujurnya kami tak berniat menggantimu dengan tuhan-tuhan yang baru. Tapi inilah kami, yang selalu buta dan percaya begitu saja dengan tuhan-tuhan kecil yang entah dari mana ia tercipta. Kami bodoh Tuhan, sungguh kami ingin bertemu dengan-Mu dan menanyakan kembali kebenaran-Mu yang kami pelajari semasa kecil dulu. Tapi hati kami telah pecah Tuhan. Mata hati yang biasa kami pakai telah berubah menjadi mata sapi, pelajaran-pelajaran tak kami mengerti yang menjadi santapan kami setiap hari.

Tuhan, apakah engkau telah mati dalam diri kami? Lalu kami ganti dengan tuhan-tuhan yang baru? Arrrrrrrrrrrrrght... Tuhan, sungguh Engkau tetaplah Tuhan. Tuhan kami yang tak akan terganti. Tapi, di sini, di bumi ini, dalam diri kami, kami telah membunuh-Mu dengan cara yang keji.


*NP
- Malang, 31 Agustus 2012
- Gambar diambil dari SINI

Rabu, 27 Juni 2012

Perempuan Malam


Sejatinya aku bukanlah makhluk suci kawan. Aku hanya ingin mengajakmu sedikit berpikir tentang mereka yang mungkin dalam hidup tidaklah seberuntung kita. Dalam satu perjalananku pada sebuah kota indah penuh makna, aku dipertemukan dengan seorang wanita muda dimana usianya tak lebih dari 20 tahun. Bahkan ketika aku tanya pernah sekolah di mana, ia hanya menjawab dengan sedikit senyuman penuh guratan tangis, "Cuma lulusan SMP mas".

Anak desa yang sebenarnya juga layak mendapatkan pendidikan lebih, penghidupan cukup, tapi "terpaksa" menjadi perempuan malam karena tuntutan ekonomi keluarganya, ibunya sakit, ayahnya meninggal, adik-adiknya yang masih kecil perlu biaya sekolah.

Jika mau jujur, hatiku menangis kawan. Aku pun tak mau ada di tempat seperti ini dengan teman sejuta dengus birahi manusia. Sedangkan hanya untuk berdiri saja mereka tak lagi punya kaki, untuk bercerita lidahnya patah, untuk tersenyum bibirnya layu.

Pernahkah kita berpikir untuk bisa mengangkat mereka dari nerakanya saat ini? Pernahkah terbersit sekali saja dalam benak kita tentang hatinya yang mulia dibalik cibiran kita yang hina? Aku rasa tidak.

Jangan terlalu bodoh berpikir bahwa neraka hanya ada setelah kematian kawan. Saat ini pun, di dunia ini pun mereka menikmati nerakanya karena kita yang memiliki surga seakan-akan buta, tuli, serta tak pernah mau tahu air mata apa yang ia tumpahkan dari pelupuk matanya. Apa yang mereka teriakkan dalam hatinya, apa yngg mereka nyanyikan dalam heningnya, apa yang mereka doakan dalam diamnya.

Air mata darah mana lagi yang tak akan tumpah jika kita tahu makna tatapan matanya. Akankah masih menganggapnya pemuas dahaga ketika suara hati mereka terdengar oleh ketulian kita. "Aku juga ingin merasakan surga selayaknya apa yang kalian rasakan!" Gerutunya dalam tangis serta tunduk wajahnya yang menghiba.

Lalu dimana hati kita saat melihat mereka? Mencibirkah, acuh tak acuhkah, butakah, atau membanggakan diri seraya berkata, "Mereka sangatlah hina"?

Aku hanya mengajak diriku serta siapa saja yang mau dan tidak tertutup hatinya kala membaca ini agar sedikit berpikir tentang mereka. Bahwa mereka juga butuh tangan kita untuk mengangkat mereka dari nerakanya. Selanjutnya, kita sendirilah yang lebih tahu jalan mana yang hendak kita tuju guna menghapus sedikit beban yang ia rasakan.

Maaf saudaraku, aku belum bisa mengangkat dirimu dari nerakamu.
Yakinlah Tuhan tak pernah buta. Ia tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
Maaf kawan, tak selayaknya aku katakan ini karena aku bukanlah bagian dari manusia suci.
Aku juga belum mampu mengangkat mereka dari nerakanya.
Hanya menceritakan, bahwa aku pernah bertemu dan turut menikmati senyum dalam tangisnya yang khas.


Note:
- Tulisan Oleh Si Boy dengan sedikit editting.
- Gambar di ambil dari SINI.

Rabu, 25 April 2012

Ever Sleeping

Suatu saat aku melakukan perjalanan ke 7 lautan
Dan sesekali aku menyanyikan 700 lagu
Yah, mungkin aku masih harus berjalan 7000 mil lagi sampai akhirnya aku menemukan satu yang aku miliki

Aku memejamkan mataku sebelah dengan sebelahnya lagi yang terus berjalan
Demi sesuatu yang tak pernah hilang di malam hari
Sampai aku kehilangan napas saat kesedihan yang menjadi kata-kata terakhirku

Aku percaya saat itu akan segera datang
Dalam kesunyian aku berdoa, suatu saat nanti akan datang suatu masa yang jauh lebih indah

Setelah ku seberangi 7 sungai
Selama 7 tahun pula, aku lupa siapa diriku
Bahkan jika aku punya kesempatan memiliki 7 kematian, maka akan aku relakan demi mimpiku yang tak pernah mati

Aku bermimpi, semalam ia datang kepadaku
Dia berkata: "Kekasihku, mengapa kau menangis?"
Saat itu sudah tidak akan lama lagi
Sampai di kuburanku yang dingin, aku berdusta...

Cry For The Moon

Ikuti saja akal sehatmu
Kau tak akan dapat menyembunyikan diri
Di balik sebuah dongeng
Hanya dengan kebenaran kita bisa mengungkapkan benteng kesakitan ini
Selamanya

Indoktrinasi pikiran seringkali tesirat pengalaman yang menyakitkan
Kejahatan bagi mereka yang berkhotbah menentang

Jangan coba meyakinkanku dengan utusan Tuhan
Kalian menimpakan dosa kepadaku atas dosa yang kalian lakukan
Kalian menuduhku
Tidakkah kau melihatmu di cermin
Di balik layar membuka realita

Kesunyian abadi berteriak demi sebuah keadilan
Taubat bukan sesuatu yang di obral
Juga tentang kehendak untuk melupakan

Kalian renggut Keperawananku
Seakan tiada lagi hargaku
Pemadam itu seakan kehilangan kekebalannya
Terkapar tak berdaya di taman Eden

Kau tak bisa terus menyembunyikan diri di balik dongeng kuno
Segera cuci tanganmu dari kepolosan yang kau banggakan

Untittled

Bintang perak di malam hitam
Berkelana melalui bayangan patah
Sungai kehidupan serasa penuh dosa

Air yang ku minum adalah darah di tangan
Tak ada yang melihat bagaimana aku terbakar

Ya, hari datang mencicipi racun hitam
Yang tak pernah mencapai hati ini

Air mata terpisah dari dalam diri
Maaf atas obsesi ini

Kau ada di sini
Dalam tuduhanku sendiri

Hah, hidup ini seperti sendiri
Datang dan melempar batu sendiri

Tuhan...
Benarkah aku hanya bagian dari permainan-Mu
Hidup lalu Kau biarkan mati

Semua yang telah dan yang aku lihat sekarang
Hanya hantu dari apa yang aku sebut BANGSAT!!!

Sleeping Sun

Matahari tertidur tenang
Sekali abad
Lautan tenang sayu dan merah
Bersemangat belaian dikuburkan
Untuk impianku
Pegang hidupku
Untukku melihat malamku
Sebuah kebenaran pada akhir waktu
Kehilangan iman membual kejahatan

Ingin kali ini malam berlangsung selama kehidupanku
Kegelapan di sekitarku - tepi laut surya
Hah, betapa ku ingin turun dengan matahari
Larut tangis bersamamu

Kesedihan hati manusia
Dari Allah aku berangkat
Berlayar sebelum seribu bulan
Tak usah mencari ke mana harus pergi
Dua ratus dua puluh dua hari cahaya
Momen seorang penyair bermain
Sampai tak ada lagi yang bisa dikatakan

I wish for this night time to last for a life time
The darkness around me
Shores of a solar sea
Oh how I wish to go down with the sun

Sleeping

Weeping

With you

#ini untuk aNda

Take Me Home

Kadang aku bertanya
Siapa kau sekarang?
Aku hanya ingin tahu tentangmu

Apakah besok?
Apakah suatu hari nanti?
Jadilah yang kau ingini

Di mana kau?
Aku hanya ingin melihatmu
Merasakan damai tatapanmu
Beritahu aku jika matahari akan terbit dan membantuku menemukan jalan

Tidak akankah kau memberikan tanganmu sekarang?
Kau tidaklah sendirian
Jangan biarkan pergi, tanpa kamu, aku akan jatuh
Ingatlah hidupmu terlalu singkat
Aku tahu kau akan menemukan jalan

Suatu hari lagi
Suatu kali mencoba
Kali itu juga merasa sakit

Aku berkata kepadamu, kau kehabisan waktu
Hidup terus berjalan, matahari akan terbit sehingga berdiri dan berani

You'll find a way

Take me home with you. . .

Sabtu, 31 Maret 2012

Bukan Puisi

Hai sahabat, kamu di mana?
Bukankah dulu kau telah berjanji
Setia di sini
Saling berbagi
Bercanda dan menemani

Hai Sahabat
Aku bukan lagi onani
Ini ungkapan tulus dari dasar hati

Aku mencintaimu
Seperti biasa kita bergurau
Bukan karena paras atau tampangmu
Bukan lagi fantasimu seperti gulungan marijuanamu

Kamu lupa?
Aku yakin kamu lupa
Tentang janji yang pernah kita ucap
Tentang gelegar kecil disaat kita bersama tergolek tak berdaya
Terbang melampaui dunia

Aku yakin kamu lupa
Aku tetaplah manusia
Wajar bila berbuat dosa
Kenapa tiba-tiba kau menghilang?
Kau tak pernah menjelaskan

Maaf, aku cerewet
Aku ingin kamu di sini
Membangunkan fantasiku lagi

Kau di mana?
Aku tak pernah tahu
Dan segera ingin tau
Jelaskan kepadaku
Tentang kepergianmu

Tunjukkan keberadaanmu saudaraku
Aku ingin tahu

NGOK!!!!

Sabtu, 11 Februari 2012

Protesku Pada Tuhan

Air ini tidak pernah membeku dimataku
Dia terlalu cair untuk menutupi segala macam kesedihan
Tuhan pun sepertinya hanya diam
Tiap kali aku mengadu, jawab-Nya selalu sama
Tunggu, tunggu, tunggu...

Ah, aku bosan Tuhan
Aku sakit...
Apakah memang ini siksa-Mu untukku
Jika iya, sangat kecil sepertinya
Tapi jika bukan, ini terlalu pedih ku rasakan
Engkau mengerti kan Tuhan
Tuhan, jawab Tuhan
Jangan diam...

Aku tak punya siapa-siapa lagi Tuhan
Bisaku hanya protes kepada-Mu
Apa ini dosa...

Tuhan, jika Engkau percaya pada kemampuanku
Kenapa Kau timpakan sakit yang luar biasa
Aku tak sanggup Tuhan...

Tuhan, demi nama-Mu yang pengasih
Berikan aku kedamaian
Untuk hari ini saja
Aku sudah sangat bosan Tuhan
Aku ingin kembali berjalan...

Tuhan, maafkan aku mengeluh
Inilah yang bisa aku lakukan
Mungkin Engkau tertawa Tuhan
Melihatku begitu merintih diseka debu alam
Tuhan, maafkan aku protes...

Sayang

Sayang...
Di mana kau sekarang
Belum terbit matahariku kau sudah hilang
Meninggalkan kedamaian yang tak datang...

Dari pagi menjelang, sampai datang waktu malam engkau menghilang
Setiap jengkal waktumu seakan habis dimakan tugas yang engkau banggakan
Tidakkah kau punya sedikit saja waktumu sayang
untuk sekedar bercakap riang menikmati alunan lembut kasih sayang
Sebegitu sulitkah kau korbankan waktumu untukku
Aku tahu kau punya mainan, yang jauh lebih berharga dari sekedar menghabiskan waktu bersamaku
Aku tahu waktumu tak senggang, untukku yang tak bisa memberimu uang
Tapi tidakkah kau tahu sayang, aku merindukan cengkeramamu disaat kita miskin dulu...

Semua itu kau lakukan demi aku, tapi lama-lama aku tak butuh itu
Maafkan aku sayang, untuk kali ini aku sulit mengertimu
Aku sama sekali tak pernah tahu apa itu lembut belaianmu
Karena kau tidak lagi mengajarkan itu
Aku kesepian...

Aku ingin makan sayang, makan sepiring nasi yang kau hidangkan
Beradu tawa yang telah lama hilang
Sekarang hanya bisa ku bangunkan ingatanku
Seperti dulu...

Seharian kita berbincang
Membahas ini itu meski kita tak tahu
Mencuri pandang dan diam
saling mengejek dan mentertawakan
Menikmati celoteh kecil yang kita gelegarkan
Menata ulang tempat tidur kita yang berantakan
Kau menyapu dan aku kacaukan
Dengan rona manja kau merengek, menghukumku dengan segelas susu
Dan tibalah kemudian saatnya kita terlelap
Masih saja dengan kebahagiaaan...

Sayang, dimana engkau sekarang
Sampai tumpah air mataku kau belum juga datang
Memapah jiwaku yang berangsur petang
Sebab sesal kenangan lalu yang tak juga ku lalaikan
Seandainya saja malam ini kau datang
Tentu sekarang temanku bukan kesepian...

Ataukah kita hanya orang yang berpapasan dijalan?
Jika memang begitu maka aku tak akan menyuruhmu pulang
Aku tak akan menangis kali ini
SUdahlah, jangan kau ingat aku
Mataku hanya iritasi ringan
Bukan sakit yang dulu pernah kau rawat...

Kau juga tak akan menangis kan sayang
Air matamu terlalu berharga untuk sebuah perpisahan
Lagi pula ini hanya masalah kapan
Sudahlah jangan kau pikirkan keadaan
Apalagi aku yang tak tahu keadaan
Biarlah semua aku rasakan
Menunggu sesuatu yang akan datang
Kapan...

Kamis, 09 Februari 2012

Semoga Arwahku Diterima di Sisi-Nya

Di sisa waktuku yang sedikit ini, sebelum semuanya terlambat aku berdoa.
Tuhan, terimalah amal baikku.
Ampunilah segala dosa dan kesalahanku.
Dosa-dosa selama singgah di dermaga-Mu.

Sekarang, aku tidak punya banyak waktu.
Aku ingin berdoa.
Aku takut Tuhan, ketika aku mati nanti sifat burukku menurun kepada anak cucuku.
Aku takut mereka tidak menjadi generasi shaleh yang patuh pada ajaan-Mu.
Aku takut merasa sendiri, sebab teman yang aku nanti tak kunjung sampai.
Aku takut, doa yang mereka panjatkan tak sampai di peraduanku.
Atau mungkin mereka malah lupa denganku.

Mumpung masih punya waktu untuk meminta kepada-Mu, maka aku berdoa.
Karena nanti, ketika ajal telah tiba dan aku menghadap kehadirat-Mu, semuanya sudah terlambat, aku tidak lagi bisa berdoa.
Tuhan, meski aku belum menemukan-Mu.
Aku tetap berdoa, berharap Engkau menunjuk jalan terang-Mu.
Berharap, Engkau menyelamatkanku.
Maaf Tuhan, aku merengek.
Seperti anak kecil yang haus asi sang Ibu.

Tuhan, aku belum menemukan-Mu.
Tunjukkan satu dari sekian jalan yang ditunjuk hamba-Mu Tuhan.
Sepertinya mereka mengibuliku.
Bercerita ini itu di depanku.
Seolah hanya jalan dia lah tempat aku menemukan-Mu.
Tapi aku tak percaya Tuhan.
Tuhan, tunjukkan satu untukku.

Semoga Engkau tidak bosan Tuhan, mendengar celoteh basi hambamu ini.
Dan ketika aku belum menemukan-Mu.
Aku masih saja meminta.
Semoga arwahku diterima di sisi-Nya...

Selasa, 07 Februari 2012

Doa Seorang Pengobral Dosa

Tuhan, dari sudut kecil ini aku mencari-Mu.
Bermodal segunung variasi atas keagungan-Mu.
Sepicik inikah perasaan makhluk yang telah Engkau ciptakan sempurna.
Sadar akan diri yang penuh nista.

Tuhan, aku menghampiri-Mu.
Membawa beribu sesal yang kian menganga.
Rasa lusuh atas manusia.
Rasa tiada lagi asa berharap pada ciptaan-Mu.
Tak kunjung usai menerima dera dan pahit rasa kecewa.

Tuhan, katanya Engkau maha pengasih.
Kasihilah makhluk-Mu yang mengasihiku.
Beri kasih-Mu barang sedikit saja Tuhan.
Agar sesal ini tak lagi menjadi sandaran tiap kali aku bermimpi.

Tuhan, aku ingin mencintainya.
seperti Nefertiti yang mencintai fir'aun.
Tahu akan kebusukan yang dihidang, tapi tetap setia menghias mahkota sang raja.
Seperti alas kaki yang penuh dedikasi meski diinjak dan diperlakukan dengan hina.

Tuhan, aku ingin sakit mencintai.
Sakit yang membuatku semakin merasa memiliki.
Sakit yang mendekatkanku pada-Mu.
Bukan sakitnya kais yang gila akan pujaannya nayla.

Tuhan, uji dia dengan nikmat dan bahagia-Mu.
Hukum dirinya ke dalam lautan cinta-Mu.
Hancurkan rasanya dan sisakan hanya untuk merasakan-Mu.

Tuhan, jika dirinya tak bahagia karena doaku.
Buat dia bangga dengan kaya dosaku.
Aku tahu, aku memang tidak menyembahmu, tapi aku juga tahu Engkau adil terhadap perasaan hamba-Mu.
Ya Tuhan, Aku menangis. . .

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews