Jumat, 07 September 2012

Hujan


Barangkali kesedihan berkali-kali telah menjamah tawaku. Lebam, luka berdarah-darah. Lalu seketika angin datang mengeringkannya, mengusapnya perlahan, dan membawanya berlalu begitu saja. Hujanpun mengalah, turut serta menyembunyikan tangis yang sejenak sempat tertahan.

Aku pernah merasa menjadi manusia paling dikhianati di dunia, sering merasa menjadi seseorang paling bersalah, juga tak jarang aku menjadi ia yang paling bermasalah. Beberapa kali aku membunuh sepi, membantai kesendirian dengan nyanyian pilu yang melengking di penghujung malam. Beradu tawa dengan kepulan asap yang membumbung, mengisi setiap sudut kamar. Aku memang tak pernah punya teman untuk sekedar mendengarkan apa yang kurasakan. Demikianlah caraku menangis malam itu. Hingga tiba-tiba kau mengagetkanku, "Kapan hujan turun?" Nada penuh harap terbaca dilayar sahabat keduaku.

"Tidak akan lama lagi." Jawabku dengan beribu pertanyaan menghampiri. "Kamu kenapa?" Lanjutku.
"Kenapa bagaimana?" Seperti biasa, kamu balik bertanya.
"Aku lihat harimu menjadi mendung."
"Ah perasaan kamu saja." Kau menjawab. Sejenak pikirku melayang, membuka lagi ingatan segala peristiwa yang mempertemukan kita dengan kedekatan.

Lalu ku jawab, "Perasaanku gak pernah salah." Ya, memang perasaanku selama ini tak pernah salah terhadapmu. Sama seperti hujan yang turun secara perlahan, membasahi bumi yang kemudian menjadikannya hijau. Tak pernah salah, layaknya kita tahu wangi tanah dihari pertama turun hujan.

"Syukurlah." Timpalmu, masih dengan nada yang sama.
"Semoga kamu baik-baik saja." Kataku lagi.
"Aku akan selalu baik-baik saja." Rupanya kau coba meyakinkanku.
"Kamu yakin?" Tanyaku.
"Maybe."
"Kamu aja gak yakin. Sudahlah akui saja kalau kamu sebenarnya lemah." Aku sandarkan tubuh lusuhku pada tembok kamar. Handphone berdering 2 kali, kuabaikan. Aku terlanjur nyaman bermesraan dengan pikiran yang mulai liar. Meraih Dunhil putih, kunyalakan sambil mengingat momen terakhir kali aku menangis dibawah lebatnya hujan.

"Lalu kau akan mengasihaniku? Sudah kukatakan kalau aku bukanlah karang." Jleb! Tiba-tiba kurasakan gempa tektonik yang sama sekali belum pernah ditayangkan media elektronik sekalipun. Aku diam, kau diam. Dalam hening yang mendalam kutatap wajahmu seperti hujan yang baru reda. Ada sisa-sisa gerimis yang seakan tak ingin segera beranjak dari sana. "Lantas sampai kapan kamu akan pura-pura kuat? Sampai nanti turun hujan?" Tanyaku kemudian.

"Aku gak pura-pura kuat. Aku memang harus selalu kuat." Jawabmu sedikit menunduk, menatap hampa. Kulihat rintik hujan yang tampak malu-malu disana. Setitik, dua titik, dan beberapa titik sebelum hilang kau sapu dengan tangan lembutmu. Luar biasa, pikirku. Samar-samar kulihat padang gersang dipenuhi terik matahari di sana. Hari-hari panas, debu-debu bertebaran mengaburkan mimpi yang tiba-tiba menjadi senja. Tapi kau tak pernah berubah. "Aku ingin sepertimu." Kau selalu menjadi langit yang membiaskan pelangi, tak peduli berapa tetes air yang ingin berangsur turun tanpa bilangan. Kau adalah sarang kokoh awan-awan kelabu yang mengirimkan rinai hujan, tanpa bilangan.

"Jangan!" Tiba-tiba katamu lantang.
"Kenapa?"
"Kamu bukan orang yang kuat untuk pura-pura kuat."

Aku mengernyitkan dahiku sejenak, mencerna kedalaman kata yang kau sampaikan. Ya, aku memang selalu terbakar mentari yang aku lukis sendiri. Aku bisa berbohong kepada orang-orang, tetapi sulit kepada hujan. Bahkan di bawah derainya pun, tangis itu masih menggema sampai ke langit. Sekali lagi benar katamu, aku selalu mengeluh untuk menutupi kelemahanku. Sementara di ujung sana, pelangi bermekaran seperti bunga-bunga di musim semi. Indah dan terang. Tapi aku tak berani menunggunya. Aku selalu kalah, terbakar kilauan cahaya mentari yang ku ciptakan sendiri. Aku harus segera bergegas, pikirku. Aku tak mungkin selamanya tinggal di ruang tak berpintu ini. Aku harus segera berlari memburu mentari yang berjatuhan.

"Kamu aja bisa, kenapa aku enggak? Aku lebih kuat dari kamu." Kataku tak mau kalah.
"Coba saja." Katamu sambil tersenyum.
"Tiap hari aku selalu mencoba."
"Berhasil?"
"... Nihil."

Dalam hati, kita saling melihat. Tawa kita bertemu, di hari ketika hujan belum juga reda.



*---------------
- Music Kiss The Rain By Nhocrain
- Percakapan ini nyata, tapi tentu saja dengan tambahan gula dan garam. :)
- Hatimu, 5 September 2012

3 komentar:

L mengatakan...


Listen to the rhythm of the falling rain
Telling me just what a fool I've been
I wish that it would go and let me cry in vain
And let me be alone again. . .

R mengatakan...

.. hei2, sepertinya dua orang itu (mampu) menjadi hujan untuk saling melindungi.. untuk dua orang yang mengaggungkan hujan.. kalian tahu kemana harus datang, ketika hujan masih enggan pinjamkan kekuatan.. :)

Andra Kurniawan mengatakan...

@ L ~ “Dalam hidup, nggak ada jaminan buat terus bahagia, nggak ada kepastian buat apapun, semua orang bisa terlempar keluar dari kotak rasa nyamannya. Secara tiba-tiba.” (Malaikat Tanpa sayap).

@ R ~ Begitukah?
Hmmmmmmmmmmm :)

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...