Tampilkan postingan dengan label Caraku Onani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Caraku Onani. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 September 2012

“Suatu saat nanti, kita kan indah.” Tak terbantah!!


Untuk diriku,

Hari menemui senja ketika kita sampai di penghujung batas itu. Batas yang sepakat kita pilih sebagai tempat peristirahatan sejenak. Batas yang dulu pernah terasa begitu jauh, sejauh masa lalu. Kini, batas itu nyata dan ada dihadapan kita, atau dihadapanku saja mungkin lebih tepatnya. Kita mungkin telah terikat oleh garis-garis semu yang melintang disetiap jejak yang kita tinggalkan. Sehingga kita terbelit didalamnya, terlilit dan sakit.

“Kau pasti lelah.” Lelah dari perjalanan yang menguras, lelah dari senyum yang harus selalu siaga meski hati tak selalu merelakannya. Sudah jauh kita berjalan. Sebentar lagi kita sampai. Sampai pada titik dimana kita harus melepaskan ikatan yang mengurung, dan berani merdeka. Atau, sampai pada kata berhenti, dan menyerah. "Itu pilihan, kau pilh yang mana?"

“Kau pasti gerah.” Gerah oleh terik yang menyengat, meresap menjalar ke dalam kulit, mengelus pori yang sempit. Barangkali kita adalah orang-orang yang pernah disuatu ketika menyia-nyiakan matahari, dalam beberapa saat kita menjadi begitu pelupa jika ia: matahari, tak pernah luput mengindahkan pagi kita yang gulita dibeberapa saat sebelumnya. Lagipula apa artinya bunga yang bersemi dan mekar tanpa panas matahari. Kita akan tumbuh dan semakin matang karena kita telah terbakar. Ya, tapi mungkin tidak terus-terusan.

Aku rasa kita tak perlu takut lagi, karena kitalah matahari yang berjalan dihidup kita sendiri. Matahari yang menghidupi juga panasnya yang dengan terpaksa kita hidupkan. Dan aku percaya itu, percaya jika malam mempunyai siang. Kemudian matahari mulai menampakkan indahnya dipenghujung malam yang gelap.

“Kau pasti jengah.” Jengah oleh fatamorgana yang menipu. Kesenangan yang membutakan, juga pahit yang terpaksa kita maniskan. Ah, kenapa kita begitu jauh melangkah sedang kita tahu jurang begitu dalam di depan. Ya sudahlah, barangkali didepan sana ada indah yang harus kita buru dengan nafas terengah. Dan aku akan menjadi kita. Kita yang akan menuntunmu, menjadi satu kaki, melengkapi langkahmu yang telah pincang.

“Suatu saat nanti, kita kan indah.” Tak terbantah!!



*----------------------------------
- Musik Ariel - Dara (Dhany Rudiana)
- Malang, 30 September 2012

Selasa, 18 September 2012

?

Rabu, 29 Agustus 2012

Hanya ini yang Aku Tahu



Selama hampir 23 tahun kedekatanku bersamanya, ada beberapa hal yang mulai aku tahu darinya. Apa yang ia suka, apa yang ia benci, apa yang ia tahu, apa yang ia pikirkan, dan apa yang ingin ia lakukan. Memang tidak banyak, tapi ini cukup sebagai bekalku untuk selalu mencintainya, menjadi bagian darinya, untuk selalu berjalan di sampingnya, serta menjadi salah satu dari mereka yang rela melakukan segalanya demi kebahagiaan dirinya.
  1. Egois adalah kerikil tajam yang menghalangi langkah pertamaku untuk menyentuhnya.
  2. Keras kepala.
  3. Pencemburu sejati dengan gengsi segunung fuji.
  4. Jiwa-jiwa pemberontak tumbuh subur dalam dirinya.
  5. Keras, tak semua orang bisa melihat sisi lembutnya, apalagi menyentuhnya.
  6. Pemalas tingkat kakap, tapi sekali ia menekuni sesuatu maka ia tak akan ingat dengan segala sesuatu.
  7. Dingin.
  8. Suka segala sesuatu yang menantang, tak lazim, kontroversial.
  9. Pribadi yang membingungkan.
  10. Saat paling romantis baginya adalah saat dimana turun hujan, menurutnya saat itu adalah saat paling mesra untuk tidur.
  11. Putih, merah, dan abu-abu adalah warna yang tidak dapat dipisahkan darinya, selain warna hitam.
  12. Ambil inisiatif untuk memulai berbicara, ucapkan dengan tulus tanpa sedikitpun mengharap balasan darinya. Baginya itulah esensi kata tulus yang sebenarnya.
  13. Saat kau sedang asyik berbicara dengannya lalu tiba-tiba ia diam, sesungguhnya kau hanya punya dua jawaban, yang pertama, ia sedang memikirkan apa yang baru saja kau katakan, yang kedua kau telah merubah moodnya.
  14. Ketika ia memilih diam bukan berarti ia takut tidak kau dengar. Ia hanya berusaha menjaga ke-egoisannya. Ia berpikir, jika kau benar-benar peduli terhadapnya, kau tidak akan membiarkannya menangis memohon agar kau lebih peduli terhadapnya.
  15. Marahnya adalah sesuatu yang mahal, yang hanya akan terjual ketika kau membelinya dengan harga yang pas.
  16. Jika ia sedang bosan dengan situasi atau keadaan, ajak dia bicara atau terus menerus mengobrol dengannya, karena sesungguhnya ia hanya butuh teman untuk berbicara dan bertukar pikiran untuk membuang rasa jenuh dan bosannya.
  17. Baginya cinta itu bebas dari, bukan bebas untuk. Jadi wajar jika ia tidak pernah menampakkan kecemburuannya dihadapanmu atau sekedar merasa sakit atas perlakuanmu. Sebisa mungkin ia diam, lalu mengumpat.
  18. Ketakutannya adalah hati. Jarang dipakai, pernah hancur dua kali.
  19. Butuh waktu untuk berteman, tapi ia akan berteman seumur hidup ketika nyaman adalah hal yang tidak sulit ia dapatkan.
  20. Tipe pemikir analitis yang selalu tampak seperti “profesor linglung”.
  21. Hanya butuh sedikit teman yang ada di sekitarnya. Hal terpenting baginya adalah kecocokan yang akan menjadi sumber inspirasi bagi dirinya.
  22. Sangat mengandalkan diri sendiri. Ia selalu memberi kesan kepada orang lain bahwa mereka arogan atau congkak. Ia tidak ragu melontarkan isi kepalanya dengan kritik pedas atau bahkan cacian.
  23. Tidak suka keramaian. Ia butuh banyak waktu untuk sendiri dan sering menarik diri dari orang lain.
  24. Bermainlah dengan rambutnya, atau usaplah kepalanya dengan lembut. Ia sangat menyukainya.
  25. Bermimpi memiliki sebuah industri kreatif.
  26. Salah satu persamaan dia dengan Doraemon adalah sama-sama takut tikus.
Demikian segelintir hal yang berhasil aku ketahui selama kedekatanku dengannya. Jalan masih panjang, masih banyak hal yang belum aku tahu dan masih akan terus ku cari tahu tentangnya.

NOTE:
- Gambar diambil dari SINI.

Kamis, 02 Agustus 2012

Skripsi

MANAJEMEN PENDIDIKAN KARAKTER
DALAM PEMBELAJARAN DI INTERNATIONAL CLASS PROGRAMME SD LABORATORIUM UNIVERSITAS NEGERI MALANG






SKRIPSI
Diajukan kepada
Universitas Negeri Malang
untuk memenuhi salah satu persyaratan
dalam menyelesaikan program Sarjana












Oleh
ANDRA KURNIAWAN
NIM 208131413304












UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN
JULI 2012



Surat untuk Sang Nabi Blogernas


Assalamualaikum Wr. Wb
Salam Sejahtera
Salam "atheis"
Selamat malam dan Salam Onani!!

Hahahaa...

Entah apa yang ada dipikiran saya sekarang. Saya merupakan silent reader di Grup Facebook blogernas. Hanya sesekali ketika ada sesuatu yang saya anggap mengacau kerja imajinasi saya, baru saya ikut nimbrung berkomentar. Pertama kali membaca tulisan mas EA, jujur saya tidak merasa kaget, karena tulisan-tulisan seperti ini sudah amat sangat sering saya jumpai. Lama kelamaan, barulah saya serasa terhipnotis dan semakin penasaran. Saya tidak tahu dan tidak pernah tahu apa yang dipikirkan seorang Erianto Anass. Yang saya tahu Erianto Anass adalah makhluk cerdas yang aneh karena kecerdasannya.

Selalu ada sesuatu yang baru, yang mampu membuat member serasa minum anggur satu kontainer. Ada yang meradang, tertawa sampai terisak, bahkan sampai ada yang berteriak Allahu Akbar tapi sambil lari terkencing-kencing. Sungguh hebat anda bang, saya benar-benar salut.

Sejujurnya, blogernas inilah yang telah mengusik saya dari tidur panjang. Tidak hanya kata-katanya saja yang menampar, makna yang disampaikan melalui tulisan-tulisannya jauh lebih sangar, menghajar rasa nyaman saya terutama dalam hal beragama. Saya tidak peduli Mas Erianto "setan" Anass bertujuan menyesatkan atau malah menyadarkan. Yang jelas setelah membaca tulisan makhluk yang katanya sesat ini, saya menjadi sejuta kali lebih penasaran terhadap Islam.

Silakan Mas tertawa atas pengakuan lugu dari saya ini. Sungguh, itu merupakan suatu penghargaan buat saya. Demikian, semoga mas berkenan dan saya tunggu tamparan-tamparan mas selanjutnya.

Terima kasih
Selamat tertawa
dan
Wassalamu'alaikum Wr. Wb

Selasa, 24 April 2012

Tentang Lalu

Inilah sebenarnya yang membuatku meringis. Tak banyak yang bisa kuperbuat. Seperti biasa aku hanya bisa terbang, jauh melampaui batas, sesaat kemudian jatuh dan terhempas. Semua masih sama, berdiri dengan muka pucat pasi. Di sini, melangkahkan kembali anganku di neraka yang bergejolak. Masih saja aku diam, melihat bintang yang tak begitu terang.

Hai malam, rupanya kau di sini. Bagaimana kabarmu? Kau diam tapi berganti. Kau kan yang dulu melihatku telanjang? Bagaimana, indah bukan? Jangan kau ceritakan ini kepada orang-orang. Cukup aku dan kamu yang tahu, bersama Tuhan Yang Maha Tahu.

Kembali lagi dengan cerita yang segalanya di anggap tabu. Tentang mimpi yang begitu dirindukan. Kenapa aku tak mendatanginya saja ya cinta? Berlutut, mengemis sesuatu dengan rendah. Bisa saja aku menangis, memelas penuh iba. Tapi maaf, lagi-lagi aku tak seperti itu. Sorry-sorry, teoriku bukan rakit-rakit ke hulu. Bukan pula merengek tanpa rasa malu.

Beginilah aku dengan segala kebusukanku. Pantas jika semuanya harus aku tanggung. Hitam masa laluku tak mungkin bisa diputihkan, bahkan dengan sepuhan panas sekalipun. Sepertinya ini jawaban dari semua. Aku yang terlalu bangga dengan dosa. Berusaha menata dengan sedikit rendah hati. Mencoba berdiri meski harus tanpa kakiku yang telah lama lumpuh. Aku tak pernah mencoba menghapus cerita itu. Semua begitu kuat mengakar dalam lembutnya harapan yang tak pernah pudar.

Sebagai penguatku, selalu ada ganja yang menari ketika luka yang dulu terkoyak kembali. Tak heran jika langkahku terseok, kemudian jatuh berkali-kali.
Hahahahaa, aku ingin tertawa...

Jumat, 02 Maret 2012

Judulnya Ngutang Dulu, Bingung...

Pengen nulis, tapi nulis apa ya? Gak ada ide. Tapi kalau gak di paksa, otakku jadi manja ntar. Suntuk banget rasanya. Gak kayak biasanya. Semua kembali lagi, sama seperti beberapa waktu lalu. Salah satu penyakitku kambuh lagi sepertinya. Untuk obat, ada obatnya. Main layang-layang. Ya, Tepat sekali. Main layang-layang.
Kali ini bukan masalah gak ada angin sehingga susah nerbanginnya, tapi emang aku mainnya di kolong tempat tidur. Hahahahaa, mana bisa? Makanya dodol, aku bilang sulit.

Ah, gak jelas. Ganti topik ah.
Ow iya, kemarin katanya Timnas abis dikalahin 10 : 0 ya? Kasian banget. Tapi untung aku gak lihat. Lihat sih, tapi cuma sekilas. Kalo gak salah menit ketiga, waktu Syamsidar dapet kartu merah. Abis gitu udah langsung bisa aku tebak siapa yang bakal kalah.

Tak apa-apalah Garuda, jangan bersedih. Emang sih, aku denger-denger banyak yang nyaci-maki. Tapi jangan menangis Garuda. Aku bilang gini bukan ngguruin kamu, jadi jangan salah paham dulu. Gini garuda, kalau kamu sampai nangis. Tuh gedung DPR bisa banjir kena air mata kamu. Kalau udah sampai kayak gitu, butuh 2 milyar lagi buat WC.
Itu baru WC, kalau udah nyangkut gedung, wah bisa-bisa bukan cuma 1,2 trilyun lagi ntar. Daripada gitu kan  mending uangnya buat beli bola trus masing-masing pengurus PSSI dikasih satu-satu tuh biar gak ribut terus. Iya kan? Makanya gak usah nangis kamu Garuda. Lagian gak banget, masak Garuda nangis.

Heh, kamu ngapain Garuda? Malah senyum-senyum. Mang kamu pikir aku ngelawak? Tapi tak apa lah. Aku seneng lihat kamu bisa senyum lagi. Hehehehe
Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Kata orang-orang sih teorinya gini garuda, “Tak ada keberhasilan tanpa kegagalan”. Aku sih sebenarnya gak percaya, tapi mau gimana lagi, kita kan hidup gak sendiri, jadi terkadang kita harus ngorbanin hal-hal semacam itu demi yang namanya toleransi. Jadi terpaksa deh, demi menghormati “kata orang-orang” aku harus ngrasain gagal dulu baru sukses. Biar gak di anggap nyeleweng.

Ow iya, nanti kalau aku dah jadi orang besar. Aku gak akan nglupain kamu. Kalau nanti aku jadi pejabat, aku akan korupsi. Trus uang hasil korupsi itu aku gunakan buat bangun stadion sekelas Allianz Arena, jadi nanti kamu kalau main bola gak perlu kwatir keseleo gara-gara lapangan yang gak rata. Trus aku buat juga sekolah bola gratis untuk garuda-garuda muda yang ingin harumin nama bangsa. Gimana cita-citaku? Oke kan Garuda?


Emang sih, kedengarannya bangsat banget jadi koruptor. Tapi koruptor kan lagi ngetrend sekarang, khususnya di negeri yang katanya tercinta ini. Kan aku pengen cepet kaya, biar bisa cepet-cepet bangun stadion. Kalau gak jadi koruptor kan lama. Mungkin aku kerja seumur hidup pun gak bakal bisa bikin stadion. Alah, jangankan stadion, beli tanah buat kuburan aja kan mahal sekarang. Ya doakan saja ya Garuda semoga cita-citaku ini bisa kesampaian. Meskipun jadi koruptor kan paling gak koruptor yang berbakti pada negara.

Ngaco aku ya? Ya udah ya Garuda, aku mau nerusin skripsi.
Kamu mau ke mana? Temenin aku ya? Lagi agak galau ini...

Kamis, 23 Februari 2012

Aku Bosan Menjadi Manusia


Aku tidak mau penyakit ini kambuh lagi. Seperti biasa membuatku melepuh dan terbakar. Aku ingin semua kembali normal. Aku tak bisa lepas dari kesendirian. Seperti semula, ketika darah membasahiku keluar dari rahim ibu. Aku menangis sejadinya. Tapi mereka malah tersenyum, seolah bangga melihatku yang tersiksa oleh dunia yang begitu asing.

Beberapa saat aku mulai belajar memahami tangan-tangan serakah yang menjamahku. Mereka bicara ini itu seakan mempermainkanku yang buta dengan dunia yang baru. Apakah benar ini dunia yang Tuhan beri untukku. Atau ini hanya tempat pembuanganku sesaat. Entahlah, aku tidak tahu.

Semua terasa begitu aneh saat ini. Tidak ada lagi tali pusar, yang meski diam dia selalu mengerti apa yang aku ingini. Dunia begitu rapuh untuk manusia rapuh serapuh aku. Seandainya bisa dengan cepat ku dapat, sepertinya aku lebih bahagia menjadi debu. Dengan tidak terbebani kata-kata mulia berlabel “manusia” dia bisa melakukan apa saja. Melayang dan menempel di mana saja. Walau terkadang kehadirannya tak diharapkan. Diusir dan dipermalukan, disapu dengan hina. Setidaknya itu bukan hal yang memalukan baginya. Berbeda sekali dengan aku, yang menyandang gelar sebagai manusia.

Sekarang hampir separo perjalananku. Tak semakin indah, justru semakin memuakkan. Sebentar lagi waktuku memanjakan diri akan usai. Terpaksa mengikuti tradisi makhluk aneh yang bernama manusia. Pagi-pagi aku harus bangun, menyiapkan segala sesuatu menuju rutinitas yang menjadi kewajiban. Seharian mengurus sesuatu yang disebut pekerjaan. Hah, pasti akan sangat membosankan. Kalau hidup ini hanya sementara, kenapa harus ada acara mengumpulkan harta. Kenapa tak usaha biar cepet mati saja. Aneh memang manusia.

Belum lagi nanti di akhir ketika menghadapi satu fase bernama kematian. Seluruh perbuatan menjadi pertanggungjawaban. Kesenangan tak begitu lama semasa menyandang gelar sebagai manusia menjadi bahan perhitungan. Surga dan neraka. Haduh, aku semakin tak habis pikir. Belum mati pun rasanya aku sudah bisa melihat masa depanku ada di mana. Dan lengkaplah sudah penderitaanku sebagai manusia.

Tuhan, lagi-lagi aku mengeluh. Sejujurnya, aku tidak sanggup menjadi manusia.

Minggu, 19 Februari 2012

Denganmu di Kamar

"Dingin ya?"
"Iya dingin, sedingin air yang tak sempat mencair".
"Hahahahaa, kau terlalu lebay. Padahal rasa lebih dari sastra."
"Bisa dibuktikan?"
"Lantas, kenapa kau mengeluh?"
"Di malam yang sedingin ini seharusnya aku tidur dan menikmati selimut dekilku yang lusuh. Tapi sayang mimpi yang seharusnya jadi bunga tidurku sekarang dipinjam sama orang."
"Berapa lama?"

"Entahlah, bisa sementara atau mungkin juga selamanya."
"Bego sich."
"Aku ingin terbang tinggi meski aku bukan 'Elang'. Meski aku melakukannya tidak dengan cinta tapi satu hal yang seharusnya dia tahu."
"Apa itu?"

"Aku mencintainya."
"Tinggal ngomong, beres."
"Untuk manusia dengan kondisi seperti aku rasa semacam itu terkadang harus dikalahkan. Masih banyak hal yang harus aku pikir dan timbang ulang."
"Hahahahaa."

"Kenapa tertawa?Lucu..."
"Menyedihkan sekali."

"Itu mainanku!!!"

Plak! Sejurus kemudian aku ditonjok, dan jatuh pingsan...


Sabtu, 11 Februari 2012

Oh, Mama...

"Sudahlah sayang jangan merengek terus"
"Aku lagi sibuk sayang"
"Aku banyak urusan..."

"Aku lagi tak punya banyak waktu sayang"
"Banyak urusan menungguku"
"Sudahlah jangan menangis"
"Mereka butuh aku sayang..."

"Kamu disini saja ya?"
"Bermain dengan mainanmu"
"Banyak urusan penting yang harus ku selesaikan"

"Ayolah sayang, jangan manja..."
"Rekanku sudah menunggu aku disana..."
"Aku hanya sebentar"
"Mereka sudah menungguku"

"Nanti aku belikan kau oleh-oleh"
"Aku belikan kau mainan yang bagus"
"Kamu minta apa sayang?"
"Minta apa??"
"Aku pasti belikan"
"Sudah jangan menangis lagi"
"Kamu tidak boleh cengeng"

"Ya sudah ya sayang"
"Aku pergi dulu"
"Jangan nakal ya..."

Besss, sekejap kau meninggalkanku...

Kamis, 09 Februari 2012

Caraku Onani


Saya sendiri tertawa baca judul tulisan ini. Seperti deskripsi blog ini, saya berniat menyebarkan berbagai kebusukan pribadi, dan yang perlu digaris bawahi bahwa apa pun yang saya tulis adalah upaya untuk menghibur diri, bukan bermaksud menyakiti. Kalau pun sebagian dari anda ada yang terhibur membaca tulisan saya, mari kita doakan bersama semoga hal tersebut menjadi amalan bagi saya, amien...

Mungkin ada sebagian pembaca yang bertanya, “kalau hanya sekedar curhat kenapa harus ditulis dalam blog?”. Jawabannya sederhana, “Saya ingin berbagi, saya yakin semua orang pasti ingin dimengerti. Setiap orang perlu wadah sebagai tempat aktualisasi diri, oleh karena itu, selain menyebarkan kebusukan pribadi saya juga ingin mewakili mereka yang gatal tidak didengar”. Persetan orang mau anggap saya gila, stress, sableng, atau semacamnya saya tidak peduli. Kalau suka silakan baca, anda tidak suka silakan pergi, toh pintunya juga belum saya tutup.

Apa itu Onani?
Saya bukan ahlinya, jadi untuk mendeskripsikan kepada khalayak umum secara gamblang apa itu onani saya tidak sanggup. Singkat kata, menurut saya sendiri onani adalah menghibur diri sendiri.

Kapan saya onani?
Onani biasa saya lakukan ketika saya sedang sendiri. Lagian saya juga malu kalau onani di depan orang banyak. Fantasi saya tidak berkembang, statis, bahkan hilang begitu saja kalau ada orang yang lihat. Masalah ada selain orang yang melihat, cuek aja, yang penting mereka tidak mengganggu  imajinasi saya. “Apa saya tidak takut?”. Kenapa saya harus takut, kan saya sudah menjadi bagian dari mereka. Bahkan saya lebih sempurna. Katanya...
Mengenai waktu kapan saya onani adalah ketika orang lain tidak sanggup menghibur saya. Ketika amarah berkecamuk hebat dalam diri saya. Ketika “malaikat kecil” tak datang menjenguk saya. Ketika hati saya tak bisa berfikir logis. Ketika logika saya tak mampu mendengar nasehat nurani. Lalu saya mendengar ada yang mengeluh...

Bagaimana cara saya onani?
Bebagai macam cara saya onani. Mulai dari menggunakan berbagai alat sampai dengan hanya bermodal fantasi. Dari menggunakan kaki, kepala, gambar, video semua sudah pernah saya lakukan. Tapi yang jelas, saya melakukan onani dengan menggunakan tangan. Saya gunakan tangan saya untuk menekan tuts-tuts di keybord. Saya manfaatkan tangan saya untuk menuangkan ide, gagasan, keluh kesah, dan apapun yang ingin saya sampaikan ke dalam sebuah tulisan. Dan inilah cara favorit saya dalam ber-onani. Lewat tulisan saya bisa menuangkan berbagai kegilaan yang saya rasakan. Saya menulis tanpa kontrol, saya telanjang, menelanjangi berbagai aling-aling yang menempel pada dinding-dinding imajinasi saya. Sehingga seringkali saya diprotes, dihujani caci maki, ditusuk berbagai kebusukan akibat ide yang saya tuang ke dalam tulisan saya.

Apa saya tidak takut dosa?
Tidak, saya tidak takut. Kenapa saya harus takut berdosa karena onani? Kan saya hanya menghibur diri. Lagi pula berzina saja saya tidak merasa berdosa. "Apa anda tidak takut menyakiti orang lain?". Apa lagi menyakiti orang lain. Saya sangat tidak takut. Justru yang saya takutkan adalah jika ada orang lain yang menyakiti saya. Itu baru saya takut. Kalau pun ada yang merasa sakit hati membaca tulisan saya, saya anggap yang bersangkutan terlalu lebay, menelan mentah-mentah setiap kata dalam kalimat yang saya sampaikan. Seperti yang sering orang katakan, “Ketika kita lapar dan didepan kita ada beras. Tidak mungkin kan langsung kita makan itu beras. Dimasak dulu, baru kita makan”. Kecuali...

Pesan onani dari saya
Tidak perlu anda pahami setiap jengkal tulisan saya, cukup anda pahami diri saya. Sepenuhnya...

Sabtu, 28 Januari 2012

Iseng 3

Kusadari, amat sangat sadar bahwa aku tdk pernah menyatu dalam sisi lembut kehidupanmu.
Aku juga tak lebih teu dari kamu.
tp paling tdk aQ pernah turut hidup dlm kehidupanmu.

Jangankan hanya diam dan pasrah pd keadaan yg tak dpt ku persalahkan,
sekelas insane imajiku pun tk mungkin dpt mengejar mimpimu yg bagiku terlalu busuk untuk diharapkan.
Kau pergi dan aku merelakan, kau menangis dan aku yg mentertawakan.
Hah, Dunia tak lagi sebatas air mata Dinda...

Dalam dunia Seni Perang kau mungkin punya agility 'n strength dg hiasan Butterfly.
Tp tdkkah kau ingat bhwa kpan aja aku bisa dpt double damage dan Aegis dlm wktu yg brsamaan.
Dalam kondisi seperti itu kamu tahu kan siapa yg hrs bergegas kabur menuju foundtain.
Kau dan aQ sama, sama2 lemah, sama2 ingin menangis ketika merasakan sakit.
Cmn bedanya adalah, aku menganggap perselisihan hanyalah sebuah fase biasa, bukan luar biasa sehingga membuat dirimu binasa!!!

aQ blm menganggap dirimu pergi, mski aQ teu tetap saja ada prasangka yg tak mungkin terelak.
aQ g akan mengemis, itu prinsipku. aQ g akan menangis, itu egoQ.
dan akan aQ pertahankan sampai aQ tk mampu dan merasa perlu berlutut di hadapanmu...
Bahkan ketika aQ tulis tulisan ini pun segenap jiwaku masih luluh lantah.
otakQ msh terlalu lunglai untuk menghujat tangis bodohmu yg mentah.
Haaaaaaaarrrrrrrrrrrggghhhhtt, aQ Mulai Pesimis!!!!

Aku hanya ingin engkau tahu, bukan menangis, apalagi menikmati pahitnya aku!!!
meski aku tk pernah melihat mimpiku disaat terjaga, tp aQ tetap mendambamu entah ataukah nanti hanya sebagai imajinasi busukku.

Mungkin mimpi-mimpiku memang hanya cukup sampai disini.
Selamat bersenang-senang, Selamat malam esokQ yang berlalu begitu cepat.
Tangisku kali ini akan jadi saksi kebahagiaanmu kelak.
Ku akui, kau pantas menguasai separuh jiwaku yang telah retak.
Semoga Kau Bahagia. . .

Iseng 2

aQ renungkan kmbaLi setiap jengkal pertanyaan yg kerap kali singgah dan berlalu begitu saja dalam otakQ. Mengenai apa yg aQ dpat dr rasa ne, sampai pd tentang mengapa aQ bz bgitu larut melebur didalamX.

Rasa ne sungguh biadab, bkan hanya tLah menghancurkan logikaQ, tp jg ribuan bahkan jutaan makhluk pun turut dibutakan karenaX.
Penyakit ne bgitu akut, begitu bangsat, bhkan jauh lebih bangsat dr trojan paLing gaNas yg mengacau kerja imajiQ sekalipun.

Ahhh, aQ terLaLu Menggelegarkan kerikil keciL. aQ terlalu Lemah, aQ trLLu dini mngambil kesimpulan atas sesuatu yang sama sekali belum aQ krjakan. Bodoh ! ! ! ! 

Lebih jauh dr itu, dg sisa2 energi yg masih aQ miLiki, aQ ingin kembaLi meNata rusukQ yg berserak. aQ ingin berada pada masa yg semestinya aQ tempati. suatu masa ketika aQ masih bisa bilang "IYA" n "TIDAK". suatu masa dimana aQ bisa menempatkan hidup dan matiQ pd satu garis yg Lurus. . .

Tapi, kini malam tlah berganti pagi. begitu dingin bagi jiwa yg masih saja terdiam disudut ruang, memandangi hitam putih langit-langit kamar. Bukan hal indah tentunya jika dlm wktu yg hanya berada pd detak jarum detik ne aQ masih terus berandai-andai memikirkan sesuatu yg semestinya tidak hanya aQ pikirkan. Yg pasti aQ kini tlah berubah, n aQ akan terus berubah sampai nanti pd suatu keadaan dmn aQ bisa mengurai abu-abu menjadi hitam 'n putih.
Ya, itu inginku! ! ! ! !

20111127

"Huuhhft,,,"
Tidak ada hal paling sempurna untuk menghabiskan sepertiga hidup selain tidur pulas menghemat energi.
Aku menyadari betapa mereka bersusah melawan damainya malam, sebagian bermandikan peluh membakar matahari, namun Aku??! masih saja tertidur pulas...

Matahari sudah terlalu tinggi untukku mendambakan eksotisnya belaian mentari pagi.
Segalah sudah sang empunya tata surya mendedikasikan hidup dan mati dalam tugas.
"Ayo, semangat!!!", "Ayo, Buktikan Kamu Bisa!!!", "Ayo, Ayo, Ayo Nandi?????????????Hah. . . . . ."
Sekumpulan teori yang bagiku sudah amat sangat Basi!!

Wahai dunia, mengertilah aku BOSAN, aku muak pada kata sama yang selalu aku dapatkan.
Untuk seonggok daging yang dimuntahkan tepat 22 tahun lalu, mustinya ini bukan lagi saatnya mencari jawaban.

tapi lagi-lagi itu hanya sebatas pengharapan.
Kalau boleh protes sebenarnya bukan ini yang aku mau, tapi kedamaian hati dari kalian manusia-manusia hebat yang aku cari.

Bukan materi yang melenakan, bukan sekedar ucapan yang membuat riang, bukan pula sekedar doa yang tdk terpanjatkan, tapi air mata kalian yang mengalir deras dalam sujud pada heningnya malam. Itu yang aku dambakan...

Mam, ingatkan 22 tahun dari hari ini? meski telah amat sangat lama aku tdk pernah mencium kehadiranmu, setidaknya malam ini aku menangis disini menyadari bahwa tdk ada tempat paling nyaman untuk menangis selain di pangkuanmu.

Pap, Makasih atas gen yang kau turunkan. Sifat keras yang kau tanamkan membuat dunia ini terasa begitu lunak untuk aku genggam.

Dan spesial untukmu yang pernah mengacau kerja imajinasiku, Terima kasih telah menjadi bagian dari fantasiku menaklukkan malam.
Thanks, , ,

Iseng 1

"Huuhft, akhirnya. . ."
Satu kata yang ingin aku ucapkan tulus sejak lama.
Setelah sekian lama aku berusaha mencari jawaban atas pertanyaan yang terus menggerogoti otakku, kini aku bisa sedikit lebih bebas melenggangkan langkahku.

Aku tak perlu lagi memeras otak atau sekedar mengerutkan dahi, percuma jika aku terus berfikir tanpa sedikitpun berusaha bangkit dari mimpi yang sedikit lumayan agak panjang (Ez pase piro??!hahahaa).

Selama ini aku hanya memutar otak mencari teori yang sekiranya relevan untuk bangkit. Aku hanya mengandalkan otak untuk berspekulasi, menyertakan sekelumit opini untuk berkelit tanpa sedikit pun langkah yang aku sertakan untuk meraih “teori emas” yang terlalu aku banggakan.

Kegagalan demi kegagalan selamanya akan terus aku dapatkan jika aku hanya berfikir, karena untuk berubah tidak hanya memerlukan konsep, lebih dari itu aku harus berani mengalahkan motivasiku yang minim (Red: Kata Temen, atau sama saja mau ngatain gw PEMALAS. Ugh,,,).

50% Grafologi adalah judi dan 50%-nya lagi adalah berkas yang tidak teruji secara klinis, itu sih menurutku.
Namun salah kiranya jika aku menyebut usahaku telah gagal. Aku tidak gagal, aku telah berhasil, hanya saja hasil yang telah aku dapatkan rasanya masih jauh dari konsep berhasil yang aku pahami.

Pelan tapi pasti, slow but sure, alon-alon waton kelakon. Nha, ini baru rencanaku.
Tak apalah, sebagai manajer sejati kan harus punya pegangan 70% planning adalah berhasil."Embohlah, males mikir!".

Akhirnya, Tuhan yang begitu amat menyayangiku, teman yang sangat membantuku, dan lawan yang jijik melihat keberadaanku, ampuni dan dukung aku merubah cetakanku.

Tentang Sebuah Pelarian

Tentang Aku

Tidak banyak yang tahu tentangku. Aku bukanlah seorang yang terkenal, bukan pula manusia yang berarti besar, apalagi seorang hamba yang sepesial, aku amat sangatlah jauh dari kata spesial. Tak ada seorangpun yang tahu siapa aku. Jangankan makhluk lain, aku sendiri pun sejauh ini belum menyadari hakekatku sebagai siapa. Yang aku tahu hanyalah, orang biasa menyebutku dengan sebutan andra kurniawan. Entah sebutan tersebut berarti apa, lagi-lagi aku tidak tahu, tapi aku yakin sebutan tersebut hanyalah tanda yang tidak berarti apa-apa yang mendefinisikan keberadaanku di dunia.

Tentang Hidup

Semuanya begitu dingin, begitu risih seperti saat tangan-tangan asing menjamahku dan mengajarkanku cara mendaki jurang terjal bernama kehidupan. Dalam hidup yang aku tahu tidak lebih hanyalah, seberapapun keras aku berusaha memperjuangkan hak demi kenyamanan dan kelangsunganku dalam kehidupan, tetap saja aku tidak bisa meninggalkan satu kewajiban yang bernama kematian. Satu hal yang akan aku lakukan ketika berkesempatan untuk hidup.

Tentang Mimpi-Mimpi

Mimpi adalah genderang perang pertama yang membakar gelora kehidupanku. Tanpa kehadirannya, aku tak lebih dari sekedar batu yang membeku, cadas tak berisi. Sangat dini untuk mengatakan aku adalah seorang pemimpi, meskipun sebenarnya tak dapat dipungkiri bahwa aku hidup dengan mimpi-mimpi. Mimpiku tidak hanya bangun disaat aku terlelap, dan tertidur di waktu aku terjaga. Lebih dari itu, ia adalah Limousine berkecepatan cahaya yang mampu menghantarku ke ujung semesta terjauh sekalipun. Akulah pengagum kata-kata.
Aku bukanlah manusia sempurna, dan seberapapun besar aku berusaha menjadi sempurna, aku tahu itu hanyalah sesuatu yang amat sangat sia-sia. Tapi, aku akan terus berusaha menyempurnakan hakekatku sebagai manusia. Makhluk ciptaan-Nya yang suatu saat akan melakukan perjalanan panjang kembali kepada-Nya.

Tentang Sebuah Pelarian

Kalau tentang blog tercinta ini aku tidak bisa mendramatisasi, Hehehee. Blog inilah satu-satunya sahabat yang biasa saya ajak curhat, game paling spektakuler di dunia versi saya. Sekaligus merupakan peristirahatan paling nyaman selama saya berada di dunia maya. Ketika dunia sudah terasa begitu membosankan, selanjutnya kesinilah saya berlari.

Sebelumnya blog ini bernama caraku-onani. Kenapa saya menggunakan nama itu sebenarnya juga bukan tanpa alasan. Seperti yang sudah saya jelaskan pada post Caraku Onani, blog ini merupakan wadah sekaligus ajang pelampiasan seluruh kegilaan serta amarah saya. Saya manfaatkan tangan serta beberapa gadget yang ada di kamar saya untuk menuangkan ide, gagasan, keluh kesah, serta segala sesuatu yang ingin saya sampaikan ke dalam sebuah tulisan. Dan inilah cara favorit saya dalam melakukan onani. Lewat tulisan saya bisa menuangkan berbagai kegilaan yang saya rasakan. Bahkan lewat tulisan saya bisa menyatakan hal yang tak mungkin bisa saya katakan dalam dunia nyata. Sungguh berfantasi adalah anugerah yang amat sangat luar biasa nikmat. Terima kasih Tuhan...

Pernah beberapa kali saya diprotes teman akibat telalu sering onani ditempat umum. Saya tidak marah, saya kan orangnya emang gitu, baik. Cukup saya kutip pernyataan seorang filsuf terhebat sepanjang masa yang mengatakan, "Tidak ada alasan apapun bagi kalian untuk menyalahkan setan sebelum kalian benar-benar mengenal siapa setan itu sendiri". PUAS?!!

Harus diakui, ada kalanya kita menjadi seseorang yang benar-benar jenius, sehingga kita harus rela pura-pura tolol demi satu istilah bernama toleransi. Karena satu dan lain hal, setelah melalui perdebatan yang sangat sengit dalam diri saya, akhirnya pada tanggal 9 April 2012 blog ini resmi berganti nama serta subdomain menjadi Sebuah Pelarian.
Karena aku tidak bisa mengatakannya, maka aku luapkan segalanya dengan menuliskannya di sini. Di pelarianku.

Tentang Isi


Secara garis besar konten dari blog ini berisi segala sesuatu yang tidak penting. Tulisan-tulisan kacau, tak berkelas, sulit dicerna, ngawur, tata bahasa yang sama sekali tidak elegan, terkesan lebay juga allay. Maklumlah, ini tempat kan cuma pelarian. Tapi percayalah, seonggok andra kurniawan (tanpa huruf kapital) menulisnya dengan sepenuh hati. Bahkan ada beberapa tulisan yang benar-benar berisi curhatan dari makhluk hina satu ini. Hmmm, kasihan sekali.

Selain beberapa tulisan saya sendiri, dalam blog ini juga terdapat tulisan-tulisan yang bersumber dari tempat lain. Meskipun tidak dicopy paste 100%, tapi sebisa mungkin saya kasih sumbernya. Demikian tadi secuil kisah tentang saya dan belahan jiwa saya. Dengan mengobrak-abrik isi blog ini, maka anda akan tahu dengan sendirinya materi yang terdapat pada blog ini. Terima kasih telah berkunjung dan selamat menghibur diri.


Regards,

andra kurniawan
Everywhere - Indonesia

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews