Selasa, 19 Juni 2012

Menangislah Jangan Ragu

04 : 08 dan masih saja belum menghasilkan sesuatu. Tak seperti beberapa waktu yang lalu, yang selalu kita tutup setiap percakapan dengan semacam perasaan tak rela. Kau sakit sepertinya. Semoga aku salah duga jika kau tak lagi mengerti kemana alur serta pertemuan yang telah menghampiri kita sebelumnya. Ada semacam perasaan tak rela yang aku lihat, entah itu apa, semoga aku salah duga.

Aku memintamu untuk percaya padaku. Kita telah menghabiskan waktu yang cukup lama. Kita berbagi apa saja, segala hal yang mengantarkan kita berdua menjadi segelintir dari beberapa orang yang pernah hancur dan terluka. Dengarkan aku, aku tak tahan jika hanya dari kejauhan melihat seseorang menyakitimu. Mendengarmu dengan suara parau, melihat kedua matamu yang tak seperti biasa. Seandainya bisa, aku akan menghampirimu, memberimu semangat sebisaku. Dan ku katakan sesuatu yang membuatmu lupa seseorang telah memukul hatimu.

Aku mulai paham atas apa yang menjadi ketakutanmu, tentang dunia yang seolah tak menyisakan keramah-tamahan lagi bagimu. Tentang kekecewaan yang terus menyudutkanmu dibalik mimpi indahmu sendiri. Bukankah hidup ini adalah perjuangan yang harus dijalani seumur hidup oleh kita untuk terus melangkah walau dengan rasa tak nyaman.

Kita adalah wajah-wajah yang terkadang tak tahu untuk apa kita menangisi rasa sakit, juga kehilangan. Kita adalah orang-orang kuat karena pahitnya merelakan. Lalu, jangan katakan jika aku bukan bagian darimu, yang ada kalanya jatuh dan terluka. Kita sama. Sama-sama pernah mengenyam rasa itu. Maka usaplah sesuatu yang menetes dari kedua matamu itu. Perhatikan bibirmu yang jauh lebih indah ketika kau menariknya sedikit ke atas. Dan katakan pada dirimu, setidaknya ada suara di sekitarmu yang membuatmu tak lagi sendiri.

Aku berpikir, dengan menangis mungkin kita sudah sama-sama menjadi profesor. Tapi aku percaya, setiap dari kita memiliki kesanggupan untuk kembali tersenyum dan melupakan pil pahit yang baru saja kita telan. Menangislah jika kau anggap sesuatu itu perlu keluar dari sudut matamu. Menangislah meski kau selalu gagal menjelaskan mengapa dan siapa yang telah membuatmu menangis. Karena terkadang air matalah yang mampu menjelaskan setiap persoalan yang kita rasakan. Menangislah jika kau rasa perlu, jangan ragu, dan tak perlu malu.

2 komentar:

Penjajah Hati mengatakan...

Aku berpikir, dengan menangis mungkin kita sudah sama-sama menjadi profesor. Tapi aku percaya, setiap dari kita memiliki kesanggupan untuk kembali tersenyum dan melupakan pil pahit yang baru saja kita telan.

KereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeNNNN!!!!

Andra Kurniawan mengatakan...

Koyok koen iku, nagisan. wkwkwkwk :D

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...