Senin, 29 April 2013

Selamat Ulang Tahun Sayang


Elly Rahma El-Ghozali adalah alasan bagi lahirnya sebagian tulisan-tulisan saya. Sebagai seorang blogger sekaligus pengagum setia kata-kata, saya merasa sangat berhutang kepadanya. Berbagai inspirasi, motivasi, cinta, kegalauan, serta banyak hal lainnya yang tertumpah pada tulisan-tulisan saya sebagian lahir karena perasaan saya terhadapnya.

Sejujurnya dia tidak hanya memberikan kegembiraan bagi saya, terkadang juga kekesalan, kadang bahkan air mata. Tetapi barangkali justru karena itu kebersamaan kami lebih berwarna. Bukan hanya hitam atau putih saja, bukan hanya pink atau orange saja, melainkan hari-hari yang jauh lebih berwarna.

Hal-hal indah yang kami lalui atau air mata sekalipun seolah tak henti menjadi genderang perang imajinasi saya untuk sekedar curhat kemudian menuliskannya ke dalam blog. Mungkin ini terlalu lebay, tapi mau bagaimana lagi, segala sesuatu yang sudah dia berikan kepada saya memanglah selalu lebih. Sehingga sebagai seorang teman, ‘lawan’, sekaligus ‘kekasih’ (jika dianggap), saya merasa sangat layak berbahagia memberikan penghargaan dan rasa terima kasih terhadapnya.

4uEll, Alasan, Allien, Fucklentine’s, Hujan, Menangislah, Lelap, SukaMenangislah Jangan Ragu, Kita, Jejak, Bebas, Selisih, Rahasia, adalah sebagian kecil tulisan-tulisan saya yang terinspirasi dari kedekatan kita berdua.

Kemarin dia berulang tahun, dan tidak ketinggalan saya ingin mendedikasikan postingan kali ini khusus sebagai bagian dari perayaan kecil ulang tahunnya sekaligus permintaan maaf kepadanya. Maaf, jika sampai saat ini aku mungkin masih sangat mirip sesosok lelaki gombal kekurangan modal yang hanya memberimu kado berupa ucapan selamat atau sekedar tulisan. Tapi aku janji, ya aku janji akan membawamu kedunia yang lebih terang, lebih indah, lebih luas, dan jauh lebih baik dari sekarang, secepatnya.

Selamat ulang tahun sayang, terima kasih telah menjadi dirimu apa adanya, dan teruslah menjadi dirimu yang luar biasa. Terima kasih telah bersedia ada dihari-hari kita yang serba luar biasa.

Terakhir, semoga kata-kata sederhana ini menjadi bagian kecil perayaan ulang tahunnya. Dan hanya untuknya. 
:)

Selisih


Maaf jika kali ini aku lebih memenangkan egoku untuk diam sembari memikirkan apa yang membuat kita terkadang menjadi begitu asyik dalam keterasingan. Maaf beberapa hari yang lalu aku membentakmu, juga menghardikmu untuk tidak menghubungiku. Maaf jika aku membuatmu cemas tanpa pesan juga kabar dariku. Aku tahu kau sangat mencintaiku, bahkan mungkin melebihi dari yang aku tahu. Aku senang kau begitu perhatian padaku. Aku senang kau menjadi begitu pencemburu: bukankah cemburu merupakan tanda bahwa kita tidak menyerah dalam mencinta?* Tapi kali ini aku rasa kita berseberangan dalam hal 'mencintai'. Di saat-saat seperti inilah terkadang kita perlu melacak kedewasaan kita seorang diri, di situlah sekarang aku berada.

Belakangan kita menjadi sering tak punya waktu untuk berbicara lebih dekat. Kita hanya bertemu dan berlalu begitu saja dengan atau tanpa perasaan yang lekat. Kita menjadi sering kehilangan kesempatan untuk saling mengerti dan mendengarkan. Setiap aku mengeluh, kau ikut mengeluh. Setiap aku marah, kau bahkan jauh lebih marah. Kita lupa, dan hanya saling menyalahkan. Seolah kita bukan lagi dua orang yang berjalan di derasnya hujan. Kita sering lupa bahwa cinta tak hanya cukup kita lalui dengan bersenang-senang atau sekedar tertawa bersama. Lebih dari itu, cinta harus bisa membuka diri, untuk memberi dan menerima dengan setulus hati.**

L, kita sama-sama tahu cinta mungkin mirip semacam dua kaki yang sedang berjalan. Keduanya harus beriringan, sejalan menuju tempat bernama kebahagiaan. Namun barangkali juga sebuah kewajaran jika suatu waktu kita mulus berjalan dengan tawa yang mengembang, dan di suatu waktu yang lain kita harus terjebak dalam kerikil-kerikil ke-egoisan. O iya, untuk yang terakhir ini jangan sering-sering ya? ;)

L, aku tahu aku bukan kekasih yang baik, tapi jangan lantas kamu mengikutiku menjadi kekasih yang tidak baik. Jadilah dirimu yang baik, seperti keyakinan serta kepercayaanku yang menginginkanmu menjadi pendamping terbaik. Kuakui, aku juga bukan pendengar yang baik. Tapi percayalah, aku selalu berusaha mengerti bagaimana cara memahamimu dengan baik.

Maafkan aku jika mencintaimu dengan cara yang terlalu sederhana. Aku hanya ingin mencintaimu tanpa kemampuan apa-apa, yaitu cinta yang hanya meminta dirinya dicintai. Itu saja.

"Aku sok bijak ya? Atau sok tahu?"

Mau bagaimana lagi. Aku sudah lama tidak menulis seperti ini. Aku terlalu sibuk dengan berbagai urusanku sendiri. Rasanya begitu lama kita tidak duduk dan memulai sebuah percakapan kecil, bukan hanya tentang aku, bukan cuma tentangmu, tapi tentang kita. Ah, sepertinya aku jatuh cinta lagi padamu. Tidak apa-apa kan? Lagipula sepasang kekasih tidak berdosa jatuh cinta untuk kedua kalinya.**

Sepertinya benar yang sebelumnya. Rasanya ingin sekali kita segera bertemu. Kita duduk dan berbicara tentang apa saja, terutama mengingat kembali atau sekedar mentertawai kedekatan kita - dari hal-hal terkecil sampai sesuatu yang paling gila.

"Kapan?" ;)

#------------------------------------------------------
- *) Adopsi dari Mario Teguh quotes
- **) Fahd Djibran, Memoria - Curhat Tuan setan
- Malang, 10 April 2013

Rahasia


Kau masih seperti anak kecil, meski sebenarnya kau tak mau dianggap kecil. Bukankah kita sudah sepakat untuk menjadi sekuat baja? Aku yakin kaktus yang sering kita perbincangkan masih menyimpan janji kita, di balik duri-durinya yang runcing, atau turut terkubur pada akarnya yang menyimpan rahasia kita yang paling gila. Apakah kita masih harus meributkan hal-hal kecil ketika kita mengingat rahasia itu? Lantas, kenapa kita masih sering beradu argumen tentang apa yang membuat kaktus-kaktus kita mati menguning?

Ah, sudahlah. Biarkan rahasia-rahasia kita menjadi sesuatu yang terus membuat kita tertawa. Biarlah kita menempuh langkah kita yang paling jauh, sehingga kita sadar dan merasa tak ada seorang pun yang kita kenali, selain aku dan kamu. Biarlah kita berlari melawan kewajaran, untuk selalu berusaha melacak letak kedewasaan kita berada. Sehingga pada saatnya nanti kita bisa kembali bertemu dalam satu atap dan menceritakan kembali rahasia-rahasia yang begitu mudah membuat kita tertawa.

Semoga kau masih mengingat semua rahasia itu. Rahasia yang biasa kita bagi dengan malam, saat kita tertawa atau menangis di bawah langit yang sama. Aku tawarkan malam untukmu, dan aku memintamu membagi siangmu denganku. Bagaimana?

O iya, ingat! ini rahasia. :)

Kamis, 14 Februari 2013

Fucklentine's

Pus,

Adakalanya hari kita kelam berawan, tapi tidak berarti kita tersesat, bukan? Entahlah, tiba-tiba aku merasa demikian. Kita tahu ini bukan perasaan yang baik, bahkan terkadang terasa sangat tidak baik, sehingga perlahan nafas kita berubah menjadi mendung-mendung kelam, yang kemudian membimbing mata kita menjadi hujan. Jika memang demikian, Pus, biarlah sesuatu yang mencair itu membasahi bagian diri kita yang tandus, menyejukkan dan menumbuhkan kembali mimpi-mimpi kita yang mengering. Bukankah rumput yang basah tak akan mudah terbakar?

Pus, kita pernah merasa luka. Kita pernah merasa buta, kehilangan cahaya yang mengalir ke setiap sudut mata. Namun tetap bersyukurlah Pus, setidaknya sampai detik ini masih ada yang rela terjaga mengakrabi keegoisan kita - walaupun kecil, meskipun kerdil.

Pus, perjalanan ini memang tidak selalu indah. Adakalanya kita tertawa bangga, ada masanya kita menangis jatuh, terinjak, kemudian merasa keadaan telah memperdaya kita. Barangkali itulah sebuah perjalanan. Maka jika kau mulai merasa lelah, atau mulai jengah menginjak kerikil-kerikil di depan. Pejamkanlah matamu, rasakan kehadiranku. Jangan takut Pus, ada aku di sini - Tubuh yang bersedia memelukmu dalam setiap jerit ketakutanmu.

Pus, meski ini bukanlah jalan yang pernah kita inginkan, aku bersyukur bertemu denganmu di jalan ini. Perjumpaan kita di sini mungkin bukanlah sesuatu yang sebelumnya pernah kita inginkan, tapi paling tidak di sini kita telah membuktikan bahwa segala sesuatu bisa saja berubah menjadi apa dan bagaimana saja, sehingga kita harus merubah arah dan meraba tumpuan kemana jejak selanjutnya akan kita ciptakan – Setidaknya perjumpaan kita telah membuktikan bahwa indah adalah bukan soal (si)apa yang kita pilih, tetapi tentang apa yang kita usahakan untuknya.

Aku tidak akan memperparah ketidakjujuranku dengan mengatakan aku selalu mencintaimu. Tingkahku, tutur kataku seringkali menyakitimu. Adakalanya aku merasa menjadi seseorang yang paling membencimu. Tetapi apalah arti keduanya, mencintaimu ataupun membencimu bagiku tetaplah membuatmu selalu ada dalam diriku. Aku bahagia bisa berjalan bersamamu di jalan ini. Dan (semoga) aku akan lebih berbahagia jika kita selalu bersama di sepanjang jalan berikutnya. Maka jagalah selalu kebahagiaanku, dan aku akan selalu berjalan bersamamu – menapaki jalan ini dengan yakin, sebesar keyakinanmu untuk terus dan selalu menjalani serta menjaga bahagia bersamaku.

Maaf, cuma ini cokelat untukmu.

| Office, 12:00 - 04:31 WIB | 14 Februari 2013 | 

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews